Untung yang diraup Syamrotul cukup lumayan. Dia mampu menjual sekitar 40 ribu amplop lebaran selama Ramadan. ‘’Daerah satu dengan lain peminatnya itu berbeda-beda. Tapi, yang paling laris amplop peluk dan sedotan,’’ katanya kemarin (6/4).
Selama ini produknya itu dipasarkan via online dan offline. Serta amplop lebaran yang dijual berdasarkan permintaan konsumen. Tiap paketnya dibandrol Rp 90 ribu dengan isian 1.000 lembar. Sementara yang sudah dalam bentuk jadi dihargai Rp 1.700 untuk isi 10 pieces. ‘’Kalau harga eceran Rp 2 ribu isinya 10 pieces kecuali tiga dimensi isinya 6 pieces,’’ terang Syamrotul.
Butuh ketaletan dan kesabaran dalam memproduksi amplop lebaran. Syamrotul mengaku butuh waktu persiapan hingga tiga bulan sebelum amplop lebaran itu siap dipasarkan. ‘’Biasanya tiga bulan setelah lebaran off (produksi). Setelah itu mulai produksi untuk dijual saat Lebaran tahun berikutnya,’’ ujar lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut.
Syamrotul mengaku telah menggeluti bisnisnya itu sejak kuliah lalu. Setelah lulus, usaha kerajinan tersebut mulai dikembangkannya. Selain warga Ponorogo, konsumen amplop lebaran bikinan Syamrotul itu datang dari Sulawesi, Medan, Bontang, dan sejumlah daerah lain di luar Jatim. ‘’Tidak sulit sebenarnya (dalam proses produksinya). Hanya dibutuhkan ketelatenan saja,’’ katanya. (kid/her) Editor : Hengky Ristanto