PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Bulan Sura dan momen kemerdekaan menjadi berkah bagi pengrajin maupun pedagang baju tradisional khas Ponorogo. Seperti dialami Sugeng Prayitno, pedagang baju tradisional khas Ponorogo, yang kebanjiran order, bahkan ratusan kostum dan aksesoris ludes.
‘’Hari ini (kemarin, Red) juga banyak yang habis utamanya baju-baju lurik dan penadon,’’ kata Sugeng.
Sugeng mengatakan, mayoritas masyarakat membeli baju-baju khas Ponorogo, seperti lurik, penadon, hingga warok dan blangkon.
Kostum tersebut digunakan untuk acara Bulan Sura dan hari kemerdekaan. Pembelinya tak hanya orang dewasa, anak-anak sekolah juga berburu kostum tradisional tersebut.
‘’Yang jelas ada peningkatan permintaan, kalau persisnya berapa yang terjual jarang menghitung,’’ terangnya.
Puncak tingginya permintaan baju tradisional terjadi saat momen kemerdekaan hingga lebaran mendatang. Harga satu baju lurik dibanderol antara Rp 40 ribu-Rp 90 ribu. Untuk anak-anak antara Rp 20 ribu-Rp 75 ribu, tergantung kualitas.
‘’Kalau permintaan tinggi otomatis harus ambil stok. Dampaknya ada kenaikan harga seribu dua ribu, yang penting ada barangnya dari pada nggak ada,’’ jelasnya.
Mahmud, salah seorang pembeli, mengatakan harus putar-putar keliling berburu baju adat untuk kebutuhan putrinya dikenakan di sekolah. Stok barang di beberapa toko yang dia datangi habis.
Pun harus rela berjubel dan antre di toko milik Sugeng. Rencananya, baju lurik tersebut dipakai putrinya merayakan HUT RI di sekolah.
‘’Ada arahan dari sekolah pakai baju adat selama empat hari nanti. Hari ini (kemarin, Red) cari baju di beberapa toko habis,’’ ujar Mahmud.
Mahmud mengaku selain sulitnya mendapatkan barang, harganya juga lumayan. Namun lantaran kebutuhan, dia rela merogoh kocek agar anaknya dapat mengenakan pakaian adat di sekolah.
‘’Cari yang murah sebenarnya, tapi karena adanya ini mau tidak mau dibeli saja,’’ ujarnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya