PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Warga Dusun Sukun, Desa Sidoharjo, Pulung harus berhemat menggunakan air saat musim kemarau ini. Maklum, untuk memenuhi kebuthan sehari – hari, mereka hanya mengadalkan pasokan dropping air bersih.
Pasalnya, sumber mata air di dusun setempat mengering saat kemarau ini. Kondisi tersebut dialami 17 kepala keluarga (KK) yang terdiri dari 56 jiwa di RT/RW 04 dusun setempat.
Sumiati, warga setempat, buru-buru mengeluarkan seluruh peralatan dapur. Mulai ember, galon, panci, hingga dandang ketika truk tangki yang membawa bantuan air bersih datang, kemarin (11/9).
Satu-persatu wadah diisi penuh air bersih. Bersamaan itu puluhan warga lain turut mengantre mendapatkan air bersih. ‘’Sulit air sudah dua bulan ini,’’ kata Sumiati.
Sejak sumur mengering, warga setempat mengandalkan sungai untuk mencukupi kebutuhan mandi cuci kakus (MCK). Namun belakangan, sungai tersebut turut mengering.
Tidak jarang Sumiati dan warga lain terpaksa mandi dua hari sekali demi berhemat air. Kendati kiriman air bersih habis lebih dulu sebelum jadwal dropping selanjutnya, mereka terpaksa harus membeli air ke pedagang keliling.
‘’Kalau pedagang air pas nggak jualan, harus turun dua kilometer. Satu jeriken harga Rp 7 ribu,’’ imbuhnya.
Mislan, Perangkat Desa Sidoharjo, wilayah tersebut merupakan langganan kantong kekeringan saat musim kemarau tiap tahunnya. Dia mengklaim pihak desa telah mengajukan permohonan dropping air bersih ke BPBD setempat.
‘’Wilayah sini sudah langganan, setiap tahun pasti kesulitan air bersih,’’ kata Mislan. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya