PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo - Kemarau panjang tahun ini menjadi berkah bagi pengrajin layang-layang di Ponorogo. Mereka banjir orderan selama musim layangan tahun ini. Bahkan cuan yang dikantongi cukup menggiurkan.
Salah satu pengrajin layang-layang asal Desa Brahu, Kec. Siman, Ponorogo, Ashabul Yamin, mampu meraup uang ratusan ribu rupiah setiap harinya. Asha sapaan akrabnya sanggup membuat 30-50 layang-layang per hari. ‘’Memanfaatkan waktu luang di sela-sela kerja,’’ jelas Asha.
Pada musim kemarau tahun ini, Asha mampu memenuhi pesanan 10 ribu layang-layang. Selain didistribusikan di Ponorogo, turut memenuhi pesanan dari berbagai daerah. Mulai Surakarta, hingga daerah di Jawa Tengah lainnya.
Harga layang-layang bervariasi tergantung model dan tingkat kesulitan. layang-layang aduan dibanderol Rp 2.500 - Rp 3.000. Sedangkan, layang-layang sawangan mulai Rp 25 ribu hingga ratusan ribu rupiah tergantung ukuran.
‘’Kalau masih kuat mengerjakan lanjut produksi. Kalau sudah tidak kuat ya berhenti,’’ lanjutnya.
Paling laris manis jenis layang-layang gapangan ram-raman. Dalam pembuatannya, salah satu jenis layang-layang sawangan tersebut butuh waktu panjang dibanding dua jenis lainnya, walian dan mbulan.
‘’Pembeli bisa request jenis dan ukuran layangan,’’ ujarnya.
Butuh ketelitian dan kejelian dalam proses pembuatan layang-layang. Proses awalnya, Asha harus meraut bambu dengan berat yang seimbang bagian atas dan bawah layang-layang. ‘’Supaya nanti ketika bisa diterbangkan dengan seimbang,’’ tuturnya.
Untuk bahan baku layang-layang, Asha mendatangkan langsung dari Wonogiri. Sekali pesan, satu truk bambu jenis ulung dan petung. ‘’Animonya cukup banyak,’’ ucapnya. (adit-helmi/IAIN/fac/kid)
Baca Juga: Kibasan Ekor Layang – layang Naga Meliuk – liuk di Sirkuit Motor Cross Ban Bunder
Editor : Nur Wachid