PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Warga Dusun Bungur, Desa Munggu, Bungkal, Ponorogo, harus bersabar menghadapi kekeringan tahun ini.
Krisis air bersih yang mereka alami memaksa warga untuk bolak-balik berjalan kaki ke hutan guna mencari sumber air alternatif.
Pasalnya, sumur-sumur milik warga sudah mengering sejak sebulan lalu akibat kemarau yang berkepanjangan.
Kepala Dusun Bungur, Tukimun, mengungkapkan bahwa ratusan warganya terpaksa berjalan kaki hampir sejauh dua kilometer ke hutan yang terletak di belakang desa.
Mereka harus melewati jalan terjal di tengah hutan menuju sumber air di bukit. Setibanya di lokasi, mereka harus menunggu setengah jam untuk mengisi penuh satu jeriken.
"Sumber di bukit juga mulai mengering. Kami khawatir akan habis,” kata Tukimun.
Kekeringan dan krisis air bersih di dusun tersebut bukanlah hal baru. Warga setempat hampir setiap tahun mengalami kesulitan dalam memperoleh air bersih.
Namun, kemarau tahun ini dianggap sebagai yang terparah. Warga berharap ada bantuan untuk pembuatan sumur agar kondisi serupa tidak terulang pada kemarau tahun depan.
"Permohonan untuk bantuan air sudah kami ajukan ke BPBD. Semoga segera dikirim,” terangnya.
Mesinah, salah seorang warga setempat, mengaku harus berhemat air. Setiap hari suaminya harus mengambil air saat dini hari untuk menghindari antrean panjang.
Jika terlambat, keluarganya tidak mendapatkan air karena antrean di lokasi semakin panjang.
"Kalau sudah agak pagi, lebih banyak lagi yang datang,” kata Mesinah. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya