Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Ambisi Sugiri-Lisdyarita Patahkan Mitos Dua Periode, Pengamat Ingatkan soal Dejavu Pilkada Ponorogo

Sugeng Dwi N. • Selasa, 17 September 2024 | 20:00 WIB
Ilustrasi : Logo Pilkada Ponorogo 2024
Ilustrasi : Logo Pilkada Ponorogo 2024

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Ambisi duet Sugiri Sancoko dan Lisdyarita mematahkan mitos dua periode dalam Pilkada Ponorogo 2024 bakal mendapatkan ujian.

Kans duet petahana Sugiri Sancoko-Lisdyarita yang sedari awal diposisikan masih diatas angin dibanding rivalnya perlu dibuktikan.

Pasalnya, strategi dan progres politik kubu pendukung pasangan Ipong Muchlissoni-Segoro Luhur Kusumo Daru santer dikabarkan kian menunjukkan hasil positif.

Pengamat politik justru mempunyai pendapat terkait kondisi terakhir terkait kedua bakal pasangan calon (bapaslon) pilkada.

Lukman Santoso, Dosen Hukum Tata Negara IAIN Ponorogo berpandangan, prosentase pertarungan Sugiri vs Ipong  saat ini masih seimbang, persentasenya tetap 50:50.

Dia tak menampik jika status Sugiri-Lisdyarita sebagai petahana membuatnya terkesan berada diatas angin. Namun, menurutnya itu seperti dejavu.

Pasalnya, situasi serupa pernah juga dirasakan Ipong Muchlissoni pada tahun 2020 lalu. Ketika itu, ia masih menjabat sebagai Bupati Ponorogo.

Pada pilkada waktu itu Ipong menyandang status petahana. Tak sedikit yang menilai dirinya bakal menang mutlak atas Sugiri.

Namun fakta berbicara lain. Perolehan suara Sugiri lebih banyak yang mampu dikumpulkan Ipong.

"Keduanya pernah menjadi bupati, sehingga kedudukan kedua calon ini sejajar. Punya poin plus dan minus masing-masing,’’ kata Lukman.

Waktu tersisa 70 hari jelang coblosan 27 November mendatang, Lukman menilai tingginya penentu tingginya perolehan suara bukanlah di tangan masing-masing bapaslon.

Melainkan, aksi di balik layak yang memainkan mesin politik tepat sasaran ke jantung pemilih.

Baik itu, upaya yang dilakukan tim pemenangan partai, maupun relawan murni yang digerakkan masyarakat.

"Entah namanya apa, tapi sekarang terlihat tim-tim ini mulai bergerak. Berbeda dengan baliho atau gambar-gambar di jalan yang masih anyep,’’ ujarnya.

Lukman tak ingin memprediksi, apalagi berandai-andai siapa yang menang dalam kontestasi politik tahun ini.

Baginya, siapapun calon yang menduduki petahana harus menerima konsekuensi logis tantangan lebih berat.

Mulai dejavu berbagai kondisi politik di tiap periode pilkada, hingga over pede (percaya diri). Menurutnya, kondisi itulah yang menguntungkan poros rivalitas di setiap pesta demokrasi.

"Sugiri gandeng lagi Lisdyarita bidikannya suara perempuan. Ipong pilih Luhur dengan basis dukungan milenial," ujarnya.

"Tinggal tim masing-masing memanfaatkan poin-poin peluang ini untuk meraih kemenangan,’’ pungkas Lukman. (gen/kid)

Editor : Budhi Prasetya
#dua periode #pilkada #mitos #ipong #sugiri #ponorogo