PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Sama seperti daerah tetangga, warga Ponorogo yang memiliki hewan ternak mulai diliputi rasa cemas.
Itu terkait kembali merebaknya penyakit mulut dan kuku atau PMK belakangan ini. Terbaru, kasus hewan ternak sakit dan mati mendadak dilaporkan terjadi di Kecamatan Jenangan, Ponorogo.
Dua ekor sapi milik Kayun, warga Dusun Setutup, Desa Jimbe, Jenangan, diduga terpapar PMK.
Kedua hewan ternaknya itu mendadak lumpuh seminggu belakangan ini. Dilihat dari ciri-cirinya, sapi miliknya itu terinfeksi virus penyakit mulut dan kuku.
Kuku sapinya mengelupas, mulut mengeluarkan lendir serta mata berair. Gejala tersebut identik dengan ciri-ciri PMK.
Kayun menceritakan, awalnya kedua ternak tidak mau makan. Meski telah diobati dan kandang disemprot menggunakan desinfektan.
Sayang kondisinya tak kunjung membaik. Satu ekor sapi yang baru dibelinya setahun terakhir itu lumpuh.
"Tidak mau makan, diobati seadanya dulu karena belum bisa dibawa ke mantri hewan,’’ kata Kayun.
Tak hanya ternak miliknya, Kayun mengungkapkan jika sejumlah sapi di desanya juga mengalami gejala yang sama. Bahkan empat sapi milik tetangganya mati mendadak.
"Banyak yang takut akhirnya dijual murah, seharusnya yang mati itu laku Rp 30 juta,’’ ungkapnya.
Selain di Desa Jimbe, laporan sapi mengalami gejala mirip terpapar PMK juga didapati di Desa Plalangan, Jenangan, Ponorogo.
Pemerintah Desa (Pemdes) setempat mencatat lebih dari 30 ekor sapi milik warga diduga terinfeksi penyakit mulut dan kuku itu.
Mereka membenarkan jika empat ekor sapi milik warga dilaporkan mati mendadak dan dikubur pemiliknya.
"Mulai disadari dua minggu ini, sangat cepat penyebarannya dan paling banyak itu sapi-sapi yang baru dibeli,’’ ungkap Kepala Desa Plalangan Ipin Herdianto.
Ipin mengatakan, kasus tersebut telah dilaporkan ke Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo.
Ia menyebut jika petugas dispertahankan setempat telah terjun ke desanya untuk mengambil sampel darah hewan ternak.
Sayangnya, sampai saat ini pihaknya belum mengetahui laporan hasil uji laboratorium tersebut.
Kondisi itu membuat warga yang memiliki hewan ternak mengaku was-was.
"Sampel sudah diambil, tapi kami tunggu sampai hari ini (kemarin, Red) belum ada hasilnya,’’ ujarnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya