Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

50 Hektare Tanaman Padi Petani di Lima Kecamatan Terserang Penyakit Asem-aseman, Ini Ciri-cirinya

Sugeng Dwi N. • Jumat, 7 Februari 2025 | 01:30 WIB

Ilustrasi Foto : Serangan hama tikus dapat memengaruhi produktivitas padi di Kabupaten Ngawi
Ilustrasi Foto : Serangan hama tikus dapat memengaruhi produktivitas padi di Kabupaten Ngawi

PONOROGOJawa Pos Radar Madiun – Hamparan tanaman padi milik Supeno, di Desa Nambangrejo, Kecamatan Sukorejo tak sehijau milik petani tetangganya.

Padi yang baru ditanam sekitar 20 hari itu cenderung berwarna kemerahan dan batangnya terlihat kerdil. 

"Semua padi saya seperti ini,’’ ujar Supeno sembari menunjuk arah lahan sawahnya.

Baca Juga: Terbelit Delapan Proyek Fiktif, Kades Crabak Tersangka Dugaan Korupsi Dana Desa Segera Jalani Sidang Tipikor    

Koordinator Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dispertahankan Ponorogo Suwarni mengatakan, padi dengan ciri-ciri tersebut terserang penyakit berjuluk asem-aseman.

Selain Kecamatan Sukorejo, penyakit tersebut juga dijumpai di empat kecamatan lainnya. Yakni, Sampung, Kauman, Badegan, hingga Jambon.

Ditaksir lebih dari 50 hektare padi milik petani di lima kecamatan itu terjangkit penyakit asem-aseman.

Baca Juga: Sindiran Nyelekit Bupati Ponorogo, Sebut Ibu Muda Lebih Urus Penampilan Dibanding Tangani Anak Stunting

"Laporan masuk ke kami sejak Januari, lokasinya sama seperti tahun sebelumnya,’’ kata Suwarni.

Ia menjelaskan, penyakit asem-aseman disebabkan ketidakseimbangan potential of hidrogen (pH) tanah.

Hasil pemeriksaan, kandungan pH lahan terdampak kurang dari empat. Idealnya padi tumbuh subur kisaran pH 5-6.

Penyebab utama diduga dipengaruhi tingginya curah hujan serta genangan air terus-menerus.

Baca Juga: Jadi Lokasi CFD Baru, Dishub Ponorogo Siapkan 10 Kantong Parkir di Jalan HOS Cokroaminoto, Ambulans Tetap Prioritas

"Dampaknya pertumbuhan jadi tidak bagus. Bisa membuat masa panen mundur kalau tidak segera ditanggulangi,’’ jelasnya.

Kendati nihil laporan puso, sebagian petani memilih menanam kembali padi yang terserang penyakit.

Suwarni menyarankan pembuatan parit di sela lahan. Fungsinya, mengalirkan air ke parit serta mengeringkan lahan.

Alternatif lain, lanjut Suwarni, petani bisa menggunakan obat seperti ZnSO4, hingga kapur dolomit.

"Biasanya yang terserang umur 20-an hari. Solusinya, bisa ditanami atau disulami tanaman baru,’’ tandasnya. (gen/kid) 

Editor : Budhi Prasetya
#pertanian #padi #penyakit #ponorogo #petani