PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Hamparan tanaman padi milik Supeno, di Desa Nambangrejo, Kecamatan Sukorejo tak sehijau milik petani tetangganya.
Padi yang baru ditanam sekitar 20 hari itu cenderung berwarna kemerahan dan batangnya terlihat kerdil.
"Semua padi saya seperti ini,’’ ujar Supeno sembari menunjuk arah lahan sawahnya.
Koordinator Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dispertahankan Ponorogo Suwarni mengatakan, padi dengan ciri-ciri tersebut terserang penyakit berjuluk asem-aseman.
Selain Kecamatan Sukorejo, penyakit tersebut juga dijumpai di empat kecamatan lainnya. Yakni, Sampung, Kauman, Badegan, hingga Jambon.
Ditaksir lebih dari 50 hektare padi milik petani di lima kecamatan itu terjangkit penyakit asem-aseman.
"Laporan masuk ke kami sejak Januari, lokasinya sama seperti tahun sebelumnya,’’ kata Suwarni.
Ia menjelaskan, penyakit asem-aseman disebabkan ketidakseimbangan potential of hidrogen (pH) tanah.
Hasil pemeriksaan, kandungan pH lahan terdampak kurang dari empat. Idealnya padi tumbuh subur kisaran pH 5-6.
Penyebab utama diduga dipengaruhi tingginya curah hujan serta genangan air terus-menerus.
"Dampaknya pertumbuhan jadi tidak bagus. Bisa membuat masa panen mundur kalau tidak segera ditanggulangi,’’ jelasnya.
Kendati nihil laporan puso, sebagian petani memilih menanam kembali padi yang terserang penyakit.
Suwarni menyarankan pembuatan parit di sela lahan. Fungsinya, mengalirkan air ke parit serta mengeringkan lahan.
Alternatif lain, lanjut Suwarni, petani bisa menggunakan obat seperti ZnSO4, hingga kapur dolomit.
"Biasanya yang terserang umur 20-an hari. Solusinya, bisa ditanami atau disulami tanaman baru,’’ tandasnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya