PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Satu bulan penuh Pasar Hewan Jetis ditutup total. Terhitung penutupan sejak 8 Januari lalu, aktivitas ekonomi di pasar hewan terbesar di Ponorogo itu lumpuh total.
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) tidak ingin terburu-buru membuka kembali pasar hingga zero penambahan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK).
Kabid Peternakan, Kesehatan Hewan dan Perikanan (PKHP) Dispertahankan Ponorogo Siti Barokah mengatakan, pembukaan kembali pasar hewan butuh kajian. Pembukaan operasional pasar hewan jangan sampai menjadi pintu sebaran PMK.
Baca Juga: Penyebaran PMK di Madiun Melandai, DKPP Gencarkan Vaksinasi Hewan Ternak
Menurutnya, sejauh ini penutupan pasar dipandang efektif menekan sebaran wabah. ‘’Secara teori efektif, karena pasar tempatnya sapi dari berbagai daerah. Kita tidak mengetahui kondisi sapi sakit atau tidak,’’ kata Barokah.
Barokah mengungkapkan, pihaknya memeriksa sampel sapi dari pasar tersebut sepekan sebelum kebijakan penutupan. Hasilnya, 15 ekor sapi di pasar tersebut positif terjangkit PMK.
Uji sampel tersebut ditindaklanjuti dengan penutupan pasar hewan. Sekaligus menindaklanjuti Surat Keputusan (SK) Gubernur Jatim 100.3.3.1/31/013/2025 tentang Status Keadaan Darurat Bencana Non Alam akibat PMK di Provinsi Jawa Timur.
‘’Kalau sekarang laporan masih ada, paling satu atau dua kasus,’’ jelasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto