PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Tubuh renta dan kondisi kesehatan tak memadamkan hasrat Mbok Yem untuk kembali ke puncak Gunung Lawu.
Perempuan lanjut usia itu sudah lekat dengan gunung yang memiliki ketinggian sekitar 3.265 meter tersebut sejak masih berusia muda.
Tak heran jika Mbok Yem disebut-sebut sebagai salah satu legenda Gunung Lawu. Ia sudah lama bermukim di Hargo Dalem.
Sosoknya sangat dikenal oleh para pendaki Gunung Lawu. Bahkan perempuan berumur sekitar 82 tahun itu juga kerab disebut sebagai emak atau ibunya para pendaki.
Maklum saja, Mbok Yem yang memiliki nama asli Wakiyem itu membuka warung di Hargo Dalem yang memiliki ketinggian sekitar 3.150 mdpl.
Ia mengelola warung tersebut sejak tahun 1983 lalu. Kini, Mbok Yem harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Ia sudah enam hari menjalani perawatan di RSU ‘Aisyiyah (RSUA) Ponorogo, kondisinya sudah berangsur membaik.
Sailan, putra Mbok Yem, mengungkapkan ibunya dirawat karena mengeluh sesak napas. Selain itu, kaki dan tangannya bengkak.
Dirinya menyebut jika pembengkakan di area tangan mulai berkurang. Namun kondisi ibunya masih sedikit lemas.
"Kata dokter itu sakit paru-paru, sesak napas, mau batuk juga susah,’’ ujar anak kedua Mbok Yem itu.
Sejatinya, Sailan dan saudaranya khawatir dengan kondisi sang ibu. Beberapa kali telah meminta agar ibunya turun dari puncak Lawu dan menjalani masa tua di rumah.
Namun, Mbok Yem berat meninggalkan puncak Lawu. Bahkan, bila sudah sehat, Mbok Yem berencana kembali ke puncak.
"Bilangnya tidak mau merepoti, mau cari uang sendiri, mungkin sudah senang di gunung,’’ jelasnya.
Sailan dan keluarga was-was bilamana Mbok Yem kembali ke Lawu. Musim hujan saat ini hujan badai kerap melanda puncak Lawu.
Bahkan, saat kebakaran hutan 2023 lalu, Mbok Yem sempat enggan turun dari Gunung Lawu.
"Waktu kebakaran itu saya datang langsung ke atas, minta Mbok Yem turun tapi tidak mau. Padahal asapnya di sana tebal sekali tidak kelihatan apa-apa,’’ ungkapnya.
Sailan menuturkan jika sejumlah pendaki dari berbagai daerah silih berganti berdatangan membesuk ibunya.
Perhatian dari pendaki itu membuat Mbok Yem terharu, bahkan hingga menangis.
"Mbok Yem itu kalau di gunung cuek, tidak menyangka kalau yang datang membesuk itu banyak, bahkan sampai minta maaf,’’ ungkap Sailan.
Saking banyaknya orang yang menjenguk, belakangan jan kunjungan mulai dibatasi karena mempertimbangkan kesehatannya.
Informasi yang dihimpun, Mbok Yem mulai membuka warung di Gunung Lawu sejak 1983 silam. Itu berawal dari rutinitasnya mencari tanaman herbal.
Meski belum seramai sekarang, namun kala itu pengelola perhutani setempat menawarkan Mbok Yem membangun warung nasi pecel untuk para pendaki.
Warung tersebut berada di ketinggian 3.150 mdpl atau hanya berselisih 115 mdpl dari puncak Gunung Lawu.
"Dulu ramainya hanya saat suro, tapi sekarang setiap hari ramai. Ini pun masih buka dijaga karyawan,’’ ungkapnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya