Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cita Rasa Sate Ayam Ponorogo Haji Tukri Sobikun Terjaga sejak 1965, Kini Diteruskan oleh Generasi Ketiga

Sugeng Dwi N. • Minggu, 6 April 2025 | 21:05 WIB
LEGENDARIS: Haji Tukri Sobikun mengawali usaha sate dengan jualan keliling sejak 1965.
LEGENDARIS: Haji Tukri Sobikun mengawali usaha sate dengan jualan keliling sejak 1965.

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Sate Haji Tukri Sobikun menjadi primadona wisata kuliner bagi pemudik. Sate legendaris ini menyimpan sejarah dan kekayaan rempah khas Ponorogo.

Presiden hingga tokoh penting selalu menyempatkan singgah saat kunjungan kerja di Bumi Reog.

Semerbak harum sate menyeruak saat memasuki gang sate di Jalan Lawu, Kelurahan Nologaten, Ponorogo.

Asap mengepul sepanjang deretan rumah di gang tersebut. Salah satunya di rumah makan Sate Haji Tukri Sobikun yang penuh sesak dengan pengunjung.

Sate Tukri Sobikun menjadi salah satu ikon di Ponorogo. Berdiri sejak 1965, sate legendaris ini menjadi jujukan pecinta kuliner dari berbagai daerah.

Tak terkecuali, presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) yang kerap mampir menyantap sate saat bertandang ke Ponorogo.

‘’Artis juga banyak, seperti Ahmad Dhani dan band Dewa 19,’’ ujar Suroto, generasi ketiga Sate Tukri Sobikun.

Sejarah Sate Tukri Sobikun dimulai awal 1965 silam. Saat itu, Haji Sobikun jualan sate keliling.

Seiring berjalannya waktu, mulai membuka lapak di lahan enam meter persegi. Dilanjutkan generasi kedua, lambat laun sate ayam semakin dicintai penikmatnya.

Usaha semakin berkembang hingga sekarang. Saat ini produksi membutuhkan 80 ekor ayam per harinya.

‘’Karena banyak pesanan akhirnya jualan di rumah sampai sekarang saya melanjutkan di generasi ketiga ini. Satenya dimasak di tungku besar, jadi ada cita rasa khas,’’ ungkapnya. 

Sate Tukri memang memiliki rasa khas dan bikin nagih.

Diracik menggunakan bumbu warisan turun-temurun serta proses pembakaran dilakukan dua kali menjadikan cita rasa sate lebih khas. Tidak heran permintaan selama lebaran meningkat drastis.

Baik itu mencicipi langsung ke rumah makan maupun dijadikan oleh-oleh ke perantauan.

‘’Pesanan oleh-oleh dibungkus menggunakan besek untuk menjaga cita rasa sate sampai tujuan,’’ ujarnya. (aris-mg-pnm/gen/kid)

Editor : Mizan Ahsani
#Tukri #kuliner #sate #ponorogo