Jawa Pos Radar Ponorogo – Proses seleksi penerimaan murid baru (SPMB) untuk jenjang SD dan SMP di Ponorogo resmi ditutup pada Kamis (19/6) lalu.
Namun, di balik lancarnya pelaksanaan teknis, sejumlah wali murid menyampaikan keluhan terutama terkait sistem penentuan titik domisili saat pendaftaran daring.
Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo Nurhadi Hanuri membenarkan bahwa mayoritas keluhan yang diterima pihaknya berpusat pada kesulitan menetapkan titik koordinat rumah dalam sistem pendaftaran.
Padahal, domisili merupakan salah satu syarat utama dalam SPMB, khususnya untuk jalur zonasi.
“Mungkin ada masalah jaringan internet di tempat masing-masing. Tapi selama kami pantau dan lakukan uji coba sebelumnya, tidak ada kendala teknis yang signifikan,” ujar Nurhadi, Sabtu (21/6).
Nurhadi menegaskan bahwa Dindik sudah memberikan imbauan kepada peserta didik untuk segera mencari alternatif jalur lain jika tidak diterima di jalur awal.
Ia juga menekankan bahwa seluruh satuan pendidikan negeri di Ponorogo memiliki kualitas layanan yang relatif setara.
“Kalau sudah tahu tidak lolos di jalur zonasi atau prestasi, jangan menunggu terlalu lama. Segera ambil peluang lain agar tetap bisa bersekolah,” jelasnya.
Terkait hasil akhir pendaftaran, Nurhadi mengakui belum memiliki data rinci mengenai jumlah siswa yang diterima secara keseluruhan.
Namun, dia menyebut hampir semua SMP negeri di wilayah kota telah terisi sesuai pagu.
Untuk jenjang SD, beberapa sekolah seperti SDN Mangkujayan dan SDN Bangunsari 3 juga melaporkan pagu penuh.
“Sisanya masih kami evaluasi. Sekolah negeri di Ponorogo cukup banyak. Tapi secara umum pelaksanaan SPMB tahun ini berjalan lancar,” tandasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto