Jawa Pos Radar Ponorogo – Fakta baru kembali mengemuka soal asal-usul Hari Jadi Ponorogo.
Sejarawan, budayawan, dan arkeolog memaparkan bahwa angka 1418 Saka di watu gilang Makam Batoro Katong kemungkinan besar keliru.
Sejarawan M. Masrofiqi Maulana menjelaskan, hasil penelitian Rapporten van de Commissie yang diterbitkan dalam buku Nederlansche-Indië voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera 1905–1906, mencatat angka yang sebenarnya adalah 1318 Saka.
Jika dikonversi, tahun itu jatuh pada 1396 Masehi. Artinya, usia Ponorogo bisa berbeda 100 tahun dari yang diyakini selama ini.
“Kesalahan tafsir wajar terjadi karena keterbatasan literasi sejarah di masa lalu. Justru angka 1318 lebih sesuai dengan penelitian terbaru,” ujar Rofiq.
Selain itu, usia Ponorogo yang lebih tua dari Demak juga dipertanyakan.
Demak sendiri baru berusia 522 tahun, sehingga dianggap janggal jika kerajaan yang mengutus Batoro Katong lebih muda dari wilayah yang diutus.
Rofiq menegaskan, penelitian lebih lanjut perlu melibatkan artefak lain seperti prasasti Taji, prasasti Sirah Keting, maupun naskah Staatsblad 1878.
“Kajian literatur harus diperkuat agar penetapan Hari Jadi Ponorogo tidak sekadar berdasar tafsir tunggal batu gilang,” tandasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto