Jawa Pos Radar Ponorogo – Pemkab Ponorogo terus menggenjot upaya penurunan stunting.
Tahun ini, pemerintah daerah menargetkan prevalensi stunting ditekan hingga tujuh persen.
Sejumlah langkah strategis dilakukan untuk mengurai persoalan tumbuh kembang balita.
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita menyebut penanganan stunting termasuk prioritas sejak 2021. Kerja keras itu membuahkan hasil.
Prevalensi stunting turun dari 21 persen menjadi 14,2 persen pada 2022, kemudian 9,3 persen di 2023, dan berada di angka delapan persen pada 2024.
’’Masalah tumbuh kembang balita bukan sekadar angka, tetapi menyangkut kualitas masa depan generasi kita,’’ ujar Bunda Rita, sapaan karib Lisdyarita.
Pemkab mengintensifkan berbagai program, mulai pemantauan perkembangan balita hingga edukasi keluarga.
Pemberian makanan tambahan (PMT) menjadi salah satu intervensi penting.
PMT difokuskan pada bahan pangan lokal dengan protein hewani tinggi untuk memastikan kecukupan gizi.
’’Asupan gizi yang tepat sangat menentukan perkembangan anak,’’ jelasnya.
Selain intervensi gizi, pemerintah juga memperkuat kapasitas posyandu sebagai garda terdepan pemantauan kesehatan anak.
Penguatan ini mencakup pelayanan, edukasi, serta deteksi dini status gizi.
Bunda Rita meminta masyarakat ikut aktif melaporkan apabila ada balita yang belum terpantau atau berisiko stunting.
’’Ini progres yang sangat baik dan harus terus diperkuat,’’ ungkapnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto