Jawa Pos Radar Ponorogo – Penanganan persoalan sampah di Ponorogo membutuhkan solusi berlapis.
Pembangunan tempat pembuangan akhir (TPA) baru dinilai tidak cukup jika tidak dibarengi pengelolaan sampah dari hulu.
Karena itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ponorogo bersiap mengoptimalkan kembali 20 tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R).
Kabid Pengelolaan Sampah dan Pertamanan DLH Ponorogo Adhi Fahrianto Sulistiawan menjelaskan, TPA Mrican baru rencananya dibangun di atas lahan seluas 9,3 hektare.
Namun, area landfill yang disiapkan hanya sekitar setengah hektare atau 5.000 meter persegi untuk menampung residu sampah.
“Memang tidak luas. Karena yang masuk ke landfill benar-benar residu yang sudah tidak bisa didaur ulang lagi,” kata Adhi.
Untuk pembangunan TPA tersebut, DLH menyiapkan anggaran sekitar Rp 8 miliar.
Proyek ditargetkan mulai dikerjakan pada triwulan kedua tahun depan.
Keterbatasan kapasitas landfill membuat pengurangan sampah dari sumber menjadi keharusan.
DLH mendorong pemilahan sampah sejak tingkat rumah tangga, penguatan peran TPS3R, serta pengembangan bank sampah.
Targetnya, tonase sampah yang masuk ke TPA baru dapat ditekan hingga 30–40 persen.
“TPA bukan satu-satunya solusi. Kalau tidak dipilah dari rumah tangga, berapapun luas TPA pasti akan cepat penuh,” jelasnya.
DLH menargetkan penambahan jumlah bank sampah sekaligus mengoptimalkan fungsi TPS3R yang sudah ada.
Keberhasilan pengelolaan sampah berbasis komunal, menurut Adhi, sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat.
Sosialisasi dan pendampingan terus digencarkan agar kebiasaan memilah sampah dapat tertanam di lingkungan warga.
“Rumah tangga menjadi kunci agar TPA bisa bertahan hingga 10 tahun dengan volume sampah saat ini,” tandasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto