Jawa Pos Radar Ponorogo – Nestapa dialami belasan warga Dusun Karangsengon, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon.
Sedikitnya enam kepala keluarga (KK) yang terdiri dari 16 warga terisolir selama 20 tahun di tanah kelahiran mereka sendiri.
Setiap hari, mereka harus bertaruh nyawa melawan derasnya arus sungai untuk menjalani aktivitas.
Soiman bersama kepala keluarga lain harus menggendong anak menyeberangi sungai agar bisa mengenyam pendidikan.
Tidak ada jembatan penghubung. Tempat tinggal mereka terpisah oleh Sungai Bentul.
Jembatan bambu yang dibangun secara swadaya pada 2006 lalu hanyut terseret banjir.
“Dulu ada 20 KK tinggal di sini. Sekarang tinggal 16 KK. Tempat kami ada di perkebunan dan tidak ada jembatan,” kata Soiman, kemarin.
Saat banjir, warga benar-benar terisolir.
Mereka tidak dapat mengantar anak sekolah maupun mengakses pelayanan publik.
Kondisi tersebut makin mengkhawatirkan ketika ada warga sakit atau ibu hamil yang membutuhkan penanganan darurat.
Selama debit air meningkat dan arus sungai deras, warga hanya bisa bertahan dengan persediaan makanan seadanya.
“Di lingkungan kami ada lima anak sekolah TK sampai SMA. Kalau sungainya banjir, tidak masuk sekolah,” ungkapnya.
Sejatinya ada akses lain. Namun warga harus berjalan kaki berkilo-kilo meter melewati perkebunan.
Warga mengaku sudah beberapa kali mengusulkan pembangunan jembatan kepada pemerintah desa.
Namun hingga kini belum terealisasi.
“Kalau harus buat jembatan bambu lagi, khawatir hanyut dibawa banjir,” ujarnya.
Kepala Desa Sidoharjo Sarmin membenarkan terdapat dua titik akses sungai di wilayahnya. Yakni Karangsengon dan Sidowayah.
Menurutnya, jumlah warga di Karangsengon yang relatif sedikit menjadi salah satu kendala dalam mengusulkan pembangunan jembatan.
“Anggaran desa masih terbatas, kami upayakan ada solusi alternatif,” kata Sarmin. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto