Jawa Pos Radar Ponorogo – Akses vital penghubung Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel dan Desa Wates, Jenangan akhirnya kembali normal.
Jembatan yang sebelumnya rusak akibat longsor kini rampung dibangun dengan konstruksi besi baja WF (bordes).
Sebelumnya, warga hanya mengandalkan jembatan darurat dari bambu. Kondisi itu membuat aktivitas harian, terutama anak sekolah, penuh risiko.
Gwenzy Elmayra Gusti, siswa SDN 4 Wagir Lor, mengaku kini lebih tenang saat berangkat sekolah.
“Sekarang aman, kalau dulu takut lewat jembatan sini,” ujarnya, kemarin (27/4).
Sebelum jembatan permanen berdiri, siswa harus diantar orang tua saat melintas. Kondisi jembatan bambu yang sempit dan rapuh memicu kekhawatiran.
Warga setempat, Winarsih, menyebut kerusakan jalan sudah berlangsung lama.
Erosi membuat badan jalan menyempit hingga membahayakan pengguna.
“Ini jalan utama warga untuk aktivitas, anak sekolah, belanja, juga alternatif antar kecamatan,” ungkapnya.
Pemkab Ponorogo membangun jembatan tersebut menggunakan anggaran belanja tidak terduga (BTT) sebesar Rp 500 juta.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Ponorogo Jamus Kunto Purnomo menjelaskan, total ada empat jembatan yang ditangani pascabencana.
Yakni jembatan Wagir Lor di Ngebel, jembatan Nambak di Bungkal, serta dua jembatan di Desa Grogol, Kecamatan Sawoo.
“Tiga jembatan sudah selesai. Tinggal satu di Sawoo yang masih proses,” jelasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto