Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kirab Pusaka Batoro Katong di Ponorogo, Buceng Hasil Bumi Jadi Rebutan Warga

Sugeng Dwi N. • Senin, 15 Juni 2026 | 21:15 WIB
Pusaka peninggalan Batoro Katong dijamas di Paseban Alun-Alun Ponorogo setelah dikirab dari Makam Batoro Katong, Senin (15/6). SUGENG DWI N/RADAR PONOROGO
Pusaka peninggalan Batoro Katong dijamas di Paseban Alun-Alun Ponorogo setelah dikirab dari Makam Batoro Katong, Senin (15/6). SUGENG DWI N/RADAR PONOROGO

Jawa Pos Radar Ponorogo – Ratusan ribu warga memadati ruas jalan utama Kota Ponorogo saat Kirab Pusaka Batoro Katong digelar, Senin (15/6).

Tradisi tahunan yang menjadi bagian rangkaian Grebeg Suro itu kembali menghadirkan prosesi simbolis perpindahan pusat pemerintahan dari Kota Lama menuju Kota Tengah yang kini menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo.

Kirab dimulai dari kompleks Makam Batoro Katong di Setono, Jenangan. Rombongan kemudian bergerak melewati Jalan Batoro Katong, Ahmad Dahlan, HOS Cokroaminoto, Jenderal Sudirman, hingga berakhir di Paseban Alun-Alun Ponorogo.

Sejumlah pusaka peninggalan Batoro Katong turut dikirab dalam prosesi tersebut.

Di antaranya Tombak Kyai Tunggul Nogo, Angkin Cindhe Puspito, Songsong Kyai Tunggul Wulung, Tombak Kyai Pamong Among Geni, serta Tombak Kyai Bromo Geni.

Selain membawa pusaka, kirab juga diikuti jajaran Forkopimda, organisasi perangkat daerah (OPD), pelajar, komunitas budaya, hingga perwakilan masyarakat dari berbagai wilayah di Ponorogo.

“Antusias luar biasa, tahun ini lebih ramai dari tahun lalu. Jajanan yang kami bagikan juga ludes, dua ribu lebih tadi kami bagikan,” kata Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita.

Prosesi kirab berakhir di Paseban Alun-Alun. Di lokasi tersebut dilakukan jamasan atau pencucian pusaka menggunakan air kembang yang diambil dari tujuh sumber mata air di wilayah Ponorogo.

Tradisi jamasan memiliki makna filosofis sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah berdirinya Ponorogo sekaligus simbol penyucian diri menjelang Tahun Baru Islam.

“Ini bentuk doa dan rasa syukur kami masyarakat Ponorogo,” ungkap Lisdyarita.

Usai prosesi jamasan, perhatian warga beralih ke dua buceng raksasa berisi hasil bumi yang telah disiapkan panitia.

Ribuan warga berdesakan mengikuti tradisi purak buceng untuk mendapatkan sayur, buah, maupun hasil pertanian yang tersusun di dalam gunungan tersebut.

Masyarakat meyakini hasil bumi yang diperoleh dari buceng membawa berkah dan kelancaran rezeki.

Karena itu, tradisi tersebut selalu menjadi momen yang paling ditunggu setiap perayaan Grebeg Suro.

Salah seorang warga, Andin Putri, mengaku sengaja datang lebih awal agar bisa ikut berebut hasil bumi dari buceng.

Meski harus berdesakan dengan ribuan warga lain, dia tetap antusias mengikuti tradisi yang berlangsung setiap tahun itu.

“Ngalap berkah, mitosnya yang dapat, rezeki lancar. Walaupun tadi rebutannya agak sulit, tapi senang bisa ikut budaya ini,” ujarnya sambil menunjukkan hasil bumi berupa pare, gambas, dan terong yang berhasil dibawanya pulang. (gen/kid)

Editor : Hengky Ristanto
#Grebeg Suro 2026 #Kirab Pusaka Batoro Katong #Jamasan Pusaka #buceng purak #ponorogo