Jawa Pos Radar Ponorogo – Rangkaian Grebeg Suro 2026 di Ponorogo belum usai.
Penutup perayaan Tahun Baru Islam itu kembali dipusatkan di Monumen Bantarangin, Desa Somoroto, Kecamatan Kauman.
Selama lima hari, berbagai agenda budaya disiapkan untuk menandai berakhirnya bulan Suro.
Persiapan pelaksanaan Grebeg Tutup Suro kini mulai dimatangkan.
Pemerintah Kecamatan Kauman bersama panitia menggelar rapat koordinasi pada awal pekan lalu guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar.
"Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami jadwalkan kegiatan ini semarak," ujar Camat Kauman Toni Khristiawan, Sabtu (4/7).
Kirab budaya tetap menjadi agenda utama Grebeg Tutup Suro.
Sejumlah kegiatan lain juga disiapkan, mulai simaan Al-Qur'an, pameran pusaka, bedhol pusaka, pertunjukan reog, hingga tradisi Buceng Porak.
Tradisi tersebut telah rutin digelar sejak Monumen Bantarangin berdiri pada 2007.
Selain menjadi penutup rangkaian Grebeg Suro, kegiatan itu juga menjadi upaya menghidupkan kawasan bekas Pembantu Bupati (PB) Somoroto sebagai pusat kegiatan budaya.
"Setiap tahun masyarakat memadati kawasan Monumen Bantarangin maupun sepanjang rute kirab," katanya.
Sementara itu, Bupati Ponorogo periode 2010–2015 Amin berharap Grebeg Tutup Suro tetap dipertahankan sebagai agenda budaya tahunan.
Dia juga mengusulkan seluruh desa di wilayah eks PB Somoroto tidak lagi menggelar Kirab Suro secara terpisah, tetapi bergabung dalam Kirab Budaya Bantarangin.
Menurutnya, pelaksanaan kirab secara terpusat akan memperkuat identitas kawasan Kutho Kulon yang meliputi Kecamatan Kauman, Sukorejo, Sampung, Badegan, dan Jambon.
Selain itu, masyarakat juga lebih mudah menikmati seluruh rangkaian kegiatan dalam satu lokasi.
"Sekaligus memudahkan masyarakat menyaksikan seluruh rangkaian kegiatan dalam satu lokasi," pungkasnya. (gen/her)
Editor : Hengky Ristanto