Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

183 Bencana Terjadi di Ponorogo Selama 6 Bulan, Longsor Masih Mendominasi

Sugeng Dwi N. • Sabtu, 11 Juli 2026 | 12:20 WIB
SIAGA BENCANA: BPBD Ponorogo terus memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan setelah mencatat 183 kejadian bencana selama enam bulan pertama 2026. DOK RADAR PONOROGO
SIAGA BENCANA: BPBD Ponorogo terus memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan setelah mencatat 183 kejadian bencana selama enam bulan pertama 2026. DOK RADAR PONOROGO

Jawa Pos Radar Ponorogo – Kabupaten Ponorogo menghadapi ancaman bencana yang semakin tinggi pada 2026.

Hingga pertengahan tahun, jumlah kejadian bencana hampir menyamai total bencana yang terjadi sepanjang 2025.

Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Ponorogo mencatat 183 kejadian bencana selama periode Januari–Juni 2026.

Jumlah tersebut hanya terpaut tiga kejadian dibanding total bencana sepanjang 2025.

Sekretaris BPBD Ponorogo Ismoyo mengatakan, bencana tanah longsor masih mendominasi dengan 101 kejadian.

Selain itu, tercatat 42 banjir, 37 cuaca ekstrem, dua gempa bumi, serta satu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Beberapa hari terakhir, kami mulai mewaspadai potensi karhutla karena sudah memasuki musim kemarau dan beberapa laporan kebakaran mulai masuk kepada kami," ujarnya.

Menurut Ismoyo, tingginya angka bencana dipengaruhi kondisi geografis Ponorogo yang didominasi kawasan perbukitan serta tingginya curah hujan pada awal tahun.

Wilayah timur dan selatan Ponorogo menjadi kawasan paling rawan terdampak bencana.

Kecamatan Pulung mencatat jumlah longsor tertinggi dengan 23 kejadian, disusul Kecamatan Slahung dan Ngebel masing-masing 15 kejadian, serta Kecamatan Ngrayun sebanyak 13 kejadian.

"Tanah longsor mendominasi. Wilayah seperti Pulung, Slahung, Ngebel, hingga Ngrayun memang menjadi kawasan yang harus terus mendapatkan perhatian dalam upaya mitigasi," katanya.

Meski jumlah bencana cukup tinggi, Ismoyo memastikan seluruh kejadian dapat ditangani dengan cepat berkat koordinasi lintas instansi serta dukungan masyarakat.

BPBD Ponorogo juga terus memperkuat langkah mitigasi melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana), edukasi kebencanaan, pemantauan wilayah rawan, hingga peningkatan kapasitas relawan.

"Terpenting masyarakat segera melapor apabila melihat potensi bencana. Semakin cepat informasi diterima, semakin cepat pula penanganan dapat dilakukan sehingga risiko korban maupun kerugian bisa ditekan," pesannya. (gen/kid)

Editor : Hengky Ristanto
mitigasi bencana karhutla BPBD Ponorogo tanah longsor ponorogo