Jawa Pos Radar Ponorogo – Perayaan Tahun Baru Islam di Kabupaten Ponorogo resmi ditutup melalui Grebeg Tutup Suro yang digelar di kawasan Monumen Bantarangin, Desa Somoroto, Kecamatan Kauman, Selasa (14/7).
Ribuan warga memadati lokasi untuk menyaksikan sekaligus mengikuti tradisi buceng porak yang menjadi penanda berakhirnya Bulan Sura.
Sebanyak enam gunungan hasil bumi setinggi lebih dari tiga meter dikirab mengelilingi kawasan monumen sebelum diperebutkan masyarakat.
Berisi tomat, terong, jeruk, cabai, dan aneka sayuran, seluruh isi gunungan habis dalam waktu kurang dari lima menit.
Tradisi buceng porak menjadi salah satu rangkaian budaya yang paling dinantikan masyarakat.
Warga meyakini hasil bumi yang diperoleh membawa berkah sehingga antusias mengikuti prosesi tersebut.
"Ternyata ramai sekali, lebih ramai dari tahun lalu," ujar Suratin, warga Desa Pulosari, Kecamatan Jambon.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita mengatakan, Grebeg Tutup Suro di Monumen Bantarangin merupakan agenda budaya tahunan yang digelar sebagai penutup rangkaian peringatan Tahun Baru Islam.
Kegiatan berlangsung selama 12–16 Juli dengan menghadirkan berbagai pertunjukan seni dan tradisi.
Rangkaian acaranya meliputi ziarah makam, jaran thik, ketoprak, reog, bedhol pusaka, buceng porak, hingga kirab budaya.
"Meriah, masyarakat tumplek blek ikuti acara, seperti buceng porak ini ramai sekali," ujar Lisdyarita yang akrab disapa Bunda Rita.
Menurut Bunda Rita, penyelenggaraan Grebeg Tutup Suro tidak hanya menjadi upaya melestarikan tradisi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Ramainya pengunjung mendorong aktivitas pelaku usaha kecil dan pedagang yang berjualan di sekitar lokasi acara.
"Acara ini luar biasa, di tengah efisiensi, budaya tetap bisa dilestarikan dengan meriah, pelaku budaya juga semangat mempertahankan tradisi yang ada," pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto