Jawa Pos Radar Madiun – Lima abad lebih telah dilewati Kabupaten Ponorogo.
Memasuki usia ke-530 tahun, perjalanan panjang Bumi Reog tak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga pijakan untuk melangkah menuju masa depan tanpa kehilangan jati diri.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo ingin peringatan Hari Jadi ke-530 tidak berhenti sebagai seremoni tahunan.
Momentum tersebut menjadi ruang refleksi untuk merawat warisan budaya sekaligus mendorong pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita mengatakan, perjalanan 530 tahun menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan daerah sekaligus menatap berbagai tantangan ke depan.
Semangat kebersamaan dan gotong royong menjadi salah satu kekuatan yang ingin terus dijaga.
Karena itu, peringatan Hari Jadi ke-530 Ponorogo dikemas sederhana sekaligus lebih dekat dengan masyarakat.
‘’Kami fokus membangun semangat gotong royong. Mari bersama-sama membangun Ponorogo agar semakin maju dan sejahtera,’’ kata Bunda Rita, sapaan Lisdyarita, Selasa (11/8).
Tahun ini, Hari Jadi ke-530 Ponorogo mengusung tema Sekar Kinanthi Wening Daya.
Semangat tersebut diterjemahkan melalui berbagai kegiatan yang memadukan unsur budaya, kreativitas, kuliner, hingga keagamaan.
Sejumlah agenda disiapkan untuk melibatkan masyarakat.
Di antaranya Festival Karawitan, Ponorogo Creative Festival, Festival Kuliner, istighosah, Festival Hadrah, khataman Alquran, hingga pagelaran wayang kulit.
‘’Kami kemas sebaik mungkin, agar HUT ini dirasakan masyarakat,’’ ungkapnya.
Beragam kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menjaga denyut tradisi dan kebudayaan Ponorogo.
Di tengah perkembangan zaman, identitas budaya tetap ditempatkan sebagai bagian penting dalam perjalanan daerah.
Pesan persatuan juga dituangkan dalam logo Hari Jadi ke-530 Kabupaten Ponorogo.
Susunan angka 530 membentuk Sekar Kinanthi yang merepresentasikan persatuan, tuntunan, dan harapan.
Empat kelopak di dalamnya memiliki filosofi tersendiri. Masing-masing menyimbolkan persatuan masyarakat, harmoni budaya, gotong royong, serta sinergi antarelemen daerah.
‘’Logo ini menggambarkan Ponorogo yang terus tumbuh tanpa kehilangan jati dirinya,’’ terang Bunda Rita.
Semangat tersebut pula yang ingin dibawa dalam perjalanan Ponorogo ke depan.
Kemajuan daerah diharapkan berjalan beriringan dengan upaya menjaga akar budaya yang telah menjadi identitas masyarakat Bumi Reog.
Lisdyarita mengajak seluruh masyarakat menjaga kerukunan sekaligus mengambil peran dalam pembangunan.
Kebersamaan pemerintah dan masyarakat dinilai menjadi modal penting untuk membawa Ponorogo semakin maju.
‘’Usia 530 tahun bukan hanya catatan sejarah, tapi pijakan untuk menghadirkan Ponorogo yang semakin maju, sejahtera, berbudaya, dan tetap memiliki jati diri,’’ pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto