Jawa Pos Radar Ponorogo – Program makan bergizi gratis (MBG) di Ponorogo diharapkan tak sebatas memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat.
Pemkab mendorong setiap dapur MBG menyerap pekerja sekaligus menggunakan bahan baku lokal agar perputaran ekonomi turut dirasakan masyarakat desa.
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita mengatakan, tenaga relawan maupun pekerja dapur MBG sebisa mungkin berasal dari masyarakat setempat.
Dengan begitu, keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru.
Namun, terdapat sejumlah posisi yang pengisiannya mengikuti ketentuan pemerintah pusat. Di antaranya kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan.
’’Untuk lapangan pekerjaan, kalau bisa harus dari masyarakat Ponorogo,’’ ujar Bunda Rita, Minggu (27/9).
Tak hanya tenaga kerja, Lisdyarita juga meminta pengelola dapur MBG memanfaatkan hasil pertanian dan peternakan lokal sebagai bahan baku.
Menurut dia, peluang tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha masyarakat.
Terlebih, mulai bermunculan anak muda di Ponorogo yang mengembangkan usaha budi daya lele hingga ayam petelur.
’’Kami minta bahan baku lokal. Jadi, geliat ekonomi di desa benar-benar bisa bermanfaat,’’ tegasnya.
Dengan kebutuhan bahan pangan yang rutin, operasional dapur MBG diharapkan menciptakan efek ekonomi bagi petani, peternak, maupun pelaku usaha di sekitar lokasi SPPG.
Selain dampak ekonomi, Pemkab Ponorogo menyoroti pengelolaan limbah dapur MBG.
Lisdyarita meminta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait bersama pengelola dapur memeriksa kondisi instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Pengelolaan limbah harus dipastikan berjalan baik agar aktivitas dapur tidak menimbulkan persoalan baru bagi warga maupun lingkungan sekitar.
’’IPAL ini jangan sampai menjadi gangguan terhadap lingkungan di sekitar dapur MBG,’’ ujarnya. (err/kid)
Editor : Hengky Ristanto