Jawa Pos Radar Madiun - Di bawah kepemimpinan Shin Tae-yong alias STY sebagai pelatih, Timnas Indonesia berhasil mencapai hal-hal yang sebelumnya dianggap mustahil.
Dari lolos ke babak 16 besar Piala Asia 2023, lolos semifinal Piala Asia U-23 2023, hingga yang terbaru, lolos ke Ronde Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.
Tak heran STY terus dielu-elukan publik tanah air. Sejak ia bersedia menukangi Indonesia pada 2019, STY menjadi salah satu figur penting dalam transformasi permainan timnas.
Sayangnya, kemesraan STY dan Indonesia terancam bakal segera berakhir.
Itu seiring dengan kian kencangnya rumor STY yang ditawari posisi pelatih Timnas Korea oleh KFA (PSSI-nya Korea).
Hingga kini, STY juga belum meneken perpanjangan kontrak sebagai pelatih Timnas Indonesia yang disodorkan oleh Ketum PSSI Erick Thohir.
Rumor kian kuat seiring absennya STY pada drawing Ronde Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.
PSSI telah mengonfirmasi bahwa acara pengundian yang akan digelar di Kuala Lumpur pada 27 Juni mendatang tidak akan dihadiri oleh STY.
"Namun demikian, dalam kesempatan ini, coach Shin Tae-yong tidak dapat turut hadir bersama delegasi PSSI," demikian rilis resmi PSSI.
Alasan Absennya STY
PSSI menyebut, STY tidak akan hadir di acara drawing tersebut karena sedang menjalani perawatan kesehatan.
"Setelah berkonsultasi dengan tim medis, diputuskan bahwa coach Shin Tae-yong akan fokus pada proses kesembuhannya selama 2-3 minggu ke depan," tulis PSSI.
Ketum PSSI Erick Thohir turut mengonfirmasi hal itu.
"Saya minta agar coach Shin dapat fokus pada pemulihannya dengan tenang, agar dapat kembali dengan sehat dan pulih," ujarnya.
Komentar STY terkait Rumor STY
Erick Thohir rupanya juga sudah mendengar rumor KFA yang membujuk STY untuk kembali ke Korea dan menukangi Taeguk Warrior -julukan Timnas Korea.
"Beliau sedang dalam perawatan di rumah sakit, kita berikan waktu," ujarnya, kepad awak media.
"Kalau dari Korea menginginkan Coach Shin Tae-Yong, saya tidak bisa melarang. Sama juga ketika pelatih bulutangkis kita diinginkan negara lain, tidak bisa melarang," sambung Erick Thohir. (naz)
Editor : Mizan Ahsani