Jawa Pos Radar Madiun – Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) masih terus mencari pelatih baru untuk tim nasional setelah Luciano Spalletti resmi meninggalkan kursi kepelatihan Azzurri.
Salah satu kandidat kuat, Claudio Ranieri, menyatakan penolakannya meskipun sudah ditawari langsung oleh Presiden FIGC Gabriele Gravina.
Ranieri, yang kini berusia 73 tahun, baru-baru ini menyelesaikan masa baktinya sebagai pelatih Roma dan kini menjabat sebagai penasihat keluarga Friedkin—pemilik klub ibu kota tersebut.
Dalam pernyataan resmi kepada kantor berita ANSA, Ranieri mengaku menolak tawaran melatih Italia demi komitmen pada peran barunya di AS Roma.
“Saya berterima kasih kepada Presiden Gravina atas kesempatan luar biasa ini. Namun setelah saya mempertimbangkannya secara matang, saya memilih tetap berfokus menjalankan peran baru di Roma,” kata Ranieri.
Ia juga menegaskan bahwa keluarga Friedkin selaku pemilik Roma memberikan dukungan penuh terhadap keputusan apa pun yang ia ambil terkait tawaran tersebut.
“Tapi pada akhirnya, keputusan ini sepenuhnya dari saya sendiri,” lanjutnya.
Penolakan Ranieri memaksa FIGC kembali menyusun opsi.
Sejumlah nama mulai disebut, dan salah satu yang mengemuka adalah Stefano Pioli, eks pelatih AC Milan, yang kini menjadi kandidat terkuat untuk mengisi posisi pelatih kepala Azzurri.
Sementara itu, Spalletti yang telah dipecat dari kursi pelatih timnas tetap memimpin tim dalam laga terakhir menghadapi Moldova, Senin malam waktu setempat, di Reggio Emilia.
Dalam pertandingan tersebut, Italia menang 2-0. Itu menjadi kemenangan ke-12 dari total 24 pertandingan selama Spalletti menangani Italia, dengan enam hasil imbang dan enam kekalahan.
Dalam konferensi pers usai pertandingan terakhirnya, Spalletti mengungkapkan refleksi mendalam atas masa tugasnya bersama Azzurri.
Ia menyebut bahwa dirinya menjalani banyak kesulitan selama menangani tim, dan bahkan tidak yakin telah membangun warisan kuat bagi pelatih selanjutnya.
“Saya hidup dalam kesulitan sepanjang hidup saya. Jika ada orang yang mencoba merasa kasihan kepada saya, rasanya saya ingin menanduk mereka,” kata Spalletti.
“Saya akui tidak akan mewariskan skuad yang luar biasa. Penampilan kami malam ini pun tidak terlalu istimewa. Saya hanya mencoba. Saya melakukan kesalahan, mencoba berbagai pendekatan, dan dalam semuanya saya berusaha belajar. Saya tidak pernah merasa lebih tahu dari orang lain.”
Kini, seluruh mata tertuju pada siapa sosok yang akan ditunjuk FIGC untuk memimpin Italia ke Kualifikasi Piala Dunia 2026 setelah masa transisi ini.
Pasca Spalletti dan penolakan dari Ranieri, pilihan federasi tinggal menipis, dan tekanan untuk menemukan sosok tepat semakin tinggi. (ota)
Editor : Ockta Prana Lagawira