Jawa Pos Radar Madiun – Kabar mengejutkan datang dari badan sepak bola Eropa, UEFA.
Crystal Palace resmi dicoret dari ajang UEFA Europa League 2024/2025 dan dipindahkan ke UEFA Conference League.
Penyebabnya adalah pelanggaran regulasi kepemilikan multiklub yang melibatkan investor klub, sebagaimana dilansir dari The Guardian.
Palace sebelumnya lolos ke Liga Europa usai tampil sebagai juara Piala FA.
Namun, UEFA menemukan bahwa pemilik saham Crystal Palace, John Textor dan David Blitzer, juga memiliki kepemilikan di klub Denmark Brøndby IF.
Kondisi tersebut dianggap melanggar aturan kompetisi antarklub Eropa yang melarang dua tim dengan pemilik sama tampil dalam ajang UEFA yang sama.
Skema Blind Trust Ditolak UEFA karena Telat
Pihak manajemen Palace sebenarnya telah mengajukan skema blind trust—mekanisme untuk memindahkan kendali saham kepada pihak independen.
Namun, permintaan tersebut ditolak UEFA karena dianggap melebihi tenggat waktu yang ditetapkan, yaitu 1 Maret 2024.
Ketua Crystal Palace, Steve Parish, angkat suara melalui akun X (dulu Twitter). Dia membantah bahwa masalahnya semata-mata karena keterlambatan dokumen.
Menurut Parish, bahkan jika seluruh pemilik saham non-Eagle Football sudah mengalihkan kendali ke blind trust sebelum tenggat, Palace tetap akan dicoret akibat interpretasi aturan UEFA yang tidak konsisten.
“Sudahlah, mari akhiri omong kosong ‘Mereka melewati tenggat waktu’ ini. Bahkan jika semua orang kecuali Eagle Football sudah menyerahkan saham ke blind trust sebelum 1 Maret, UEFA tetap mencoret kami dari Liga Europa,” tulisnya dengan nada kecewa.
Sejumlah pengamat sepak bola menyebut bahwa UEFA sebelumnya telah menerima skema serupa dari klub lain, namun kali ini menolak pengajuan Palace.
Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa tidak ada standar ganda yang jelas dalam penegakan aturan multiklub.
UEFA Belum Beri Klarifikasi Tambahan
Hingga artikel ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi tambahan dari UEFA mengenai respons atas protes suporter dan pernyataan dari pihak Crystal Palace.
Banyak yang menanti apakah UEFA akan merevisi keputusannya atau tetap bersikukuh menjalankan regulasi tanpa kompromi. (cor)
Penulis
Rizhal Putra Pratama, mahasiswa Universitas Merdeka Madiun
Editor : Andi Chorniawan