Jawa Pos Radar Madiun - Dugaan kecurangan besar mencoreng wajah sepak bola Asia.
Media ternama asal Amerika Serikat, The Athletic, merilis laporan investigatif yang menuding Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) memberikan perlakuan istimewa kepada dua negara.
Kedua negara tersebut tak lain adalah Arab Saudi dan Qatar.
Mereka diyakini lebih diuntungkan dalam penyelenggaraan ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Menurut laporan itu, AFC diduga melanggar prinsip netralitas dengan menunjuk dua negara Teluk tersebut sebagai tuan rumah babak lanjutan, yang seharusnya digelar di venue netral.
Selain itu, penjadwalan pertandingan di grup tertentu juga dianggap tidak adil dan menguntungkan tim-tim tertentu.
Baca Juga: Pelatih Sementara Juventus Akhiri Paceklik Kemenangan, Bawa Bianconeri Panjat Klasemen Serie A
Jadwal Tak Seimbang, Tim Grup Qatar Diuntungkan
Laporan The Athletic menyoroti adanya ketimpangan mencolok dalam durasi jeda antar pertandingan.
Di Grup B, yang diisi oleh Timnas Indonesia, jeda antar laga hanya 72 jam, membuat pemain kesulitan pulih secara optimal.
Sementara itu, di grup yang ditempati Qatar, para pemain mendapatkan waktu istirahat hingga enam hari penuh sebelum laga berikutnya.
“Cara terbaik menghadapi kompetisi ini adalah dengan memberikan jeda empat hari antar pertandingan,” ujar pelatih Uni Emirat Arab (UEA), Cosmin Olaroiu, dikutip dari The Athletic.
Pelatih Irak, Graham Arnold, bahkan menuding jadwal itu sudah mengatur hasil akhir.
“Bukan kebetulan kalau tim di grup dengan jeda enam hari yang akhirnya lolos,” ucapnya tajam.
Surat Internal AFC Bocor
Dalam laporan yang sama, The Athletic juga membocorkan surat internal AFC yang menyebut alasan pemilihan Arab Saudi dan Qatar sebagai tuan rumah karena “memiliki fasilitas kelas dunia.”
Namun, media tersebut mencatat tidak ada penilaian resmi atau skor evaluasi terhadap kandidat negara lain yang juga mengajukan diri sebagai tuan rumah.
Hal ini menimbulkan kecurigaan kuat bahwa proses pemilihan tidak transparan dan sudah diarahkan sejak awal.
Dominasi Politik dan Finansial di Tubuh AFC
Lebih jauh, The Athletic menyoroti pengaruh kuat negara-negara Teluk dalam tubuh AFC.
Presiden AFC, Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa, diketahui memiliki hubungan dekat dengan Arab Saudi.
Sedangkan dua posisi penting lainnya juga berasal dari kawasan yang sama.
Yasser Al Misehal (Wakil Presiden Senior AFC) dan Hani Ballan (Ketua Komite Kompetisi AFC), masing-masing dari Saudi dan Qatar.
Laporan itu menyimpulkan, pengaruh politik dan finansial Teluk telah menimbulkan ketimpangan dalam kebijakan sepak bola Asia.
Beberapa pejabat dari negara anggota AFC yang diwawancarai secara anonim bahkan mengaku khawatir terhadap independensi dan kredibilitas federasi.
“Dominasi dua negara Teluk membuat banyak pihak ragu apakah AFC masih bisa bersikap adil dan netral dalam setiap kebijakan,” tulis The Athletic dalam kesimpulan laporannya.
Temuan The Athletic memicu reaksi luas di kalangan pengamat sepak bola internasional.
Banyak yang menilai, jika tudingan tersebut terbukti benar, AFC perlu menjalani reformasi struktural besar-besaran demi mengembalikan kepercayaan publik.
Yang paling utama, juga demi menjamin keadilan kompetisi di Asia. (naz)
Editor : Mizan Ahsani