Jawa Pos Radar Madiun - Juventus memasuki era baru di bawah kepemimpinan CEO Damien Comolli.
Comolli langsung mengubah fondasi manajemen klub, terutama dalam pengelolaan pemain muda.
Satu pesan besarnya sangat tegas: Juventus tidak boleh lagi kehilangan talenta masa depan seperti yang terjadi pada Dean Huijsen, Matías Soule, atau Barrenechea.
Comolli menyoroti beberapa kasus yang dianggap merugikan klub.
Pertama, Dean Huijsen dijual jauh di bawah nilai sekarang. Bek muda itu berkembang sangat cepat di Real Madrid dan kini bernilai berkali lipat lebih tinggi.
Lalu, Matias Soule dan Barrenechea dilepas saat sedang matang-matangnya. Padahal keduanya memiliki potensi besar untuk masuk skuad inti Juve musim ini.
Terakhir, sistem pembinaan stagnan setelah lahirnya Fagioli, Miretti, dan Yildiz.
Tidak ada gelombang talenta baru yang benar-benar naik kelas secara konsisten.
Menurut Comolli, masalah ini bukan karena kurangnya bakat, tetapi karena tidak adanya keselarasan antara tim utama, Next Gen, dan departemen rekrutmen.
Bangun Sistem yang Saling Terhubung
Comolli kini mendorong model manajemen baru yang disebutnya sebagai “satu sistem, satu bahasa sepak bola.”
Semua pelatih dan manajer diwajibkan bekerja dengan filosofi yang sama, termasuk pola permainan, penggunaan data, dan peran individu.
Bakat muda harus berkembang dan bertahan di Turin. Tidak boleh lagi dijadikan solusi keuangan jangka pendek. (cor)
Editor : Andi Chorniawan