Jawa Pos Radar Madiun - Kabar penunjukan John Herdman sebagai pelatih anyar Timnas Indonesia oleh Exco PSSI pada Kamis malam (18/12), memunculkan analisis menarik dari sisi teknis permainan.
Pelatih asal Inggris yang sukses membawa Kanada ke Piala Dunia 2022 ini dikenal fleksibel, namun memiliki kecintaan mendalam pada skema 3-4-3.
Pola ini seolah membangkitkan memori manis pencinta sepak bola tanah air pada era Shin Tae-yong (STY).
Di tangan STY, skema tiga bek sejajar terbukti ampuh mendongkrak peringkat FIFA Indonesia secara signifikan dan membuat Skuad Garuda disegani di kancah internasional.
Jika menilik rekam jejaknya, Herdman berpotensi besar meneruskan atau bahkan menyempurnakan fondasi taktik yang telah dibangun STY.
Formasi 3-4-3 ala Shin Tae Yong mengandalkan tiga bek tengah sejajar sebagai tembok pertahanan utama.
Di lini tengah, dua gelandang bertahan diapit oleh dua wing back yang memiliki mobilitas tinggi di kedua sisi lapangan.
Sementara di lini depan, taktik ini menempatkan dua penyerang sayap dan satu striker murni di ujung tombak.
Keunggulan skema ini adalah fleksibilitasnya saat transisi. Ketika kehilangan bola, formasi ini bertransformasi menjadi 5-4-1.
Dua wing back mundur sejajar dengan bek tengah, sementara dua penyerang sayap turun membantu lini tengah. Tujuannya jelas, menciptakan keseimbangan antara pertahanan rapat dan serangan balik mematikan.
Minim Penguasaan Bola, Serangan Balik Mematikan
Di era STY, Timnas Indonesia dikenal cenderung bermain lebih bertahan (pragmatis) saat menghadapi tim yang levelnya lebih kuat.
Meski kerap kalah dalam penguasaan bola (possession), Indonesia menunjukkan efektivitas luar biasa.
Data statistik Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi buktinya.
Dalam enam pertandingan, Skuad Garuda mampu mencatatkan total 53 tembakan, atau rata-rata 8,83 tembakan per pertandingan.
Dari jumlah peluang tersebut, Indonesia berhasil mengonversinya menjadi enam gol, di mana mayoritas lahir dari skema serangan balik cepat yang terstruktur.
Kini, tongkat estafet strategi tiga bek itu berada di tangan John Herdman.
Dengan materi pemain yang semakin mentereng, Herdman memiliki kemewahan untuk meracik strategi 3-4-3 yang lebih agresif.
Jika STY sukses membangun fondasi pertahanan yang sulit ditembus, publik kini menanti apakah Herdman mampu memolesnya dengan pressing tinggi dan transisi kilat ala Timnas Kanada saat ia bawa lolos ke Piala Dunia 2022.
Akankah kesamaan filosofi taktik ini mempercepat proses adaptasi pemain dan membawa Garuda terbang lebih tinggi? Menarik untuk ditunggu. (naz)
Editor : Mizan Ahsani