BPS Ungkap Alasan Turis Asing Berlibur ke Indonesia, 58 Persen Demi Wisata Kuliner

Mizan Ahsani • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 11:53 WIB
Ilustrasi wisatawan bule menikmati kuliner nusantara. (BALI HOLIDAY SECRETS)
Ilustrasi wisatawan bule menikmati kuliner nusantara. (BALI HOLIDAY SECRETS)

Jawa Pos Radar Madiun - Daya tarik pariwisata Nusantara di mata dunia ternyata tidak melulu soal keindahan alam tropis atau bentangan pantai berpasir putih.

Pesona tersembunyi yang belakangan sukses menghipnotis para pelancong mancanegara justru terletak pada kekayaan cita rasa di atas meja makan.

Lebih dari separuh turis asing atau wisatawan mancanegara (wisman) rupanya sengaja terbang jauh-jauh ke Indonesia demi memanjakan lidah mereka.

"Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa 58,34 persen dari wisatawan yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2025 melakukan aktivitas wisata kuliner atau gastronomi," kata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana ​​​​​.

Menurut Widiyanti, status Indonesia sebagai negara kepulauan telah membuahkan ragam kuliner dengan identitas budaya yang sangat pekat.

Ekosistem gastronomi Nusantara ini melibatkan sebuah perjalanan panjang dan gotong royong dari berbagai kalangan masyarakat.

Semuanya bermula dari jerih payah para petani, ketangguhan nelayan, hingga racikan tangan dingin para juru masak lokal dari generasi ke generasi.

"Salah satu satu aset terbesar Indonesia sebagai destinasi wisata yaitu warisan gastronomi yang begitu kaya dan berakar kuat pada budaya masyarakat," ujar Widiyanti.

Fenomena "bule doyan makan" ini praktis menjadi angin segar bagi Kementerian Pariwisata untuk memacu angka kunjungan turis internasional.

Tercatat, sejak Januari hingga Juli 2026, jumlah pelancong asing yang masuk ke Tanah Air sudah menyentuh angka 8,98 juta kunjungan.

Pemerintah pun berani mematok target ambisius agar total kedatangan wisman sepanjang tahun ini mampu menembus angka 16 hingga 17 juta orang.

Baca Juga: KOVO Terbitkan Aturan Ketat di Liga Voli Korea, Agen Nakal Siap-Siap Diblacklist dari V-League

Menyusuri Akar Budaya Lewat WIG 2026

Menyikapi besarnya peluang pariwisata tersebut, Kemenpar segera merapatkan barisan dengan menggandeng Indonesia Gastronomy Network (IGN).

Mereka bersiap meluncurkan sebuah program unggulan bernama Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026 untuk mendongkrak popularitas pangan lokal di kancah global.

Tahun ini, gelaran bergengsi WIG akan mengusung tema From Local Roots to Global Recognition yang sarat dengan muatan penjelajahan tradisi.

Rangkaian acara utamanya telah dijadwalkan untuk memeriahkan kota Solo dan Yogyakarta mulai tanggal 26 September hingga 4 Oktober 2026 mendatang.

Lewat event ini, pengunjung diajak mengupas tuntas asal-usul bahan makanan, kearifan lokal, hingga filosofi yang tersembunyi di balik setiap sajian tradisional.

Baca Juga: KAI Madiun Running Fest 2026 Sedot 1.500 Pelari dari 14 Provinsi

Berdampak Langsung pada Perekonomian UMKM

Kehadiran jutaan pelancong asing yang rela merogoh kocek untuk berburu makanan khas daerah tentu membawa efek domino yang positif.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menilai tren pergerakan wisata kuliner ini merupakan berkah tersendiri bagi para pelaku usaha kecil.

"Ini bukan saja menarik wisatawan mancanegara untuk datang, tetapi, juga langsung mengenai UMKM-UMKM," kata Made.

Guna memperluas daya jangkau promosi, pihak kementerian juga proaktif menjalin kerja sama dengan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI).

Kolaborasi strategis ini bertujuan menghadirkan berbagai festival kuliner di pusat-pusat perbelanjaan dengan iming-iming diskon yang memanjakan mata turis.

"Kalau di mal itu pujaseranya rata-rata makanan Indonesia ya, bukan restorannya, itu salah satu cara," tambah Made.

Baca Juga: Hasil Janice Tjen di Guadalajara Open 2026 Babak Kedua: Tumbang dari Petenis Ranking 169

Tren Dinamis Wisata Gastronomi Masa Kini

Berbicara mengenai arah pergerakan tren pariwisata kuliner, Ketua IGN Vita Datau memaparkan fakta yang tak kalah menarik.

Kecenderungan wisata turis saat ini bergerak sangat dinamis karena amat bergantung pada selera serta preferensi personal dari setiap individu.

Popularitas sebuah destinasi kuliner juga semakin meroket berkat campur tangan generasi Z dan milenial yang rajin menyebar konten unik di media sosial.

"Misalnya ia suka makanan pedas, dia akan mengarah pada (tempat yang menjual makanan) Manado, begitu misalnya," ucap dia.

Ke depannya, Kemenpar diharapkan dapat terus memberikan pendampingan teknis kepada para pelaku UMKM kuliner di berbagai daerah.

Kualitas dan presentasi produk lokal harus terus didorong naik kelas agar gastronomi Nusantara tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan tampil memikat sebagai atraksi utama pariwisata dunia. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
Kementerian Pariwisata turis wisatawan kuliner wisata kuliner