Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lakon Wayang Supala Gugat 3: Mengapa Harus Membalas Dendam Paman?

K
Penulis: Ki Damar❯
Ilustrasi lakon wayang Supala Gugat.
Ilustrasi lakon wayang Supala Gugat.

Lakon wayang Supala Gugat oleh Ki Damar*


Advertisement

SETELAH pemakaman Prabu Jarasanda dilakukan, Jayatsena kembali ke istana untuk melanjutkan tugas sebagai pewaris Magadha.

Namun, Prabu Supala dari Cedi segera datang menghadap, membawa bara dendam yang siap disulut.

“Jayatsena, kau harus membalas kematian ayahmu,” tegas Supala.

Advertisement

Jayatsena menatap pamannya itu dengan bingung. “Mengapa aku harus membalas dendam, Paman?”.

Supala merasa heran. “Sebagai anak yang berbakti, kau seharusnya membunuh Bima. Dengan begitu kau mendapat gelar anak anung anindita—anak yang paling berbakti.”

Jayatsena menggeleng pelan. “Apakah berbakti harus dengan membunuh, Paman? Haruskah dendam dibayar nyawa?”

Advertisement

Ia melanjutkan dengan suara tegas namun lembut.

“Paman tahu bahwa dendam tak pernah ada akhirnya. Ia menggerogoti hati, membuat manusia dipenuhi dengki dan kebencian. Ketamakan dan kemurkaan manusia tak memiliki batas. Aku memilih menerima kejadian ini sebagai pelajaran—bagi diriku, juga bagi Magadha.”

Supala semakin gusar.

“Bagaimana mungkin kematian seorang raja hanya dianggap pelajaran? Apakah kau tidak menyayangi orang tuamu? Bahkan nyawa ayahmu kau sebut sekadar pengalaman!”

Jayatsena menatap pamannya dengan penuh ketegasan.

“Ini bukan soal nyawa, Paman. Ini tentang kesalahan ayahku. Seorang raja yang zalim akan membawa malapetaka bagi kerajaan. Aku tidak ingin mengulang kesalahan itu.”

Mendengar itu, Supala mendengus marah.

“Jika kau, sebagai putra mahkota, tidak mau menuruti niat baikku, maka aku sendiri yang akan membalas dendam pada Bima! Aku akan menghadap ke Amarta dan meminta Raja Yudhistira mengadili Bima!”.

Tanpa pamit, Prabu Supala meninggalkan Magadha. Dengan kesaktiannya, ia melesat cepat menuju istana Amarta.

Sesampainya di sana, ia berdiri tegak menatap megahnya negeri Pandawa.

“Ah, ini Amarta,” gumamnya sinis. “Indah memang. Tapi sebentar lagi akan kubuat kisruh. Akan kubuat mereka pecah belah dalam keluarga… haha!”. (*)

*Penulis lakon wayang Supala Gugat alumnus ISI Surakarta

Advertisement
Editor : Deni Kurniawan
Sumber : Radar Madiun

Artikel Terkait

Lakon Wayang Bale Gala-Gala Bagian 3 Habis: Pandawa Bangkit dari Abu, Takdir Tak Bisa Dibakar

Lakon Wayang Bale Gala-Gala Bagian 3 Habis: Pandawa Bangkit dari Abu, Takdir Tak Bisa Dibakar

Cerpen lakon wayang Bale Gala-Gala mengisahkan keselamatan Pandawa dari jebakan maut Sengkuni dan Kurawa. Meski Bale Gala-Gala telah menjadi abu, kebenaran dan takdir tak pernah bisa dibakar.

Lakon Wayang Bale Gala-Gala Bagian 2: Garangan Putih Penyelamat Pandawa dari Kobaran Api

Lakon Wayang Bale Gala-Gala Bagian 2: Garangan Putih Penyelamat Pandawa dari Kobaran Api

Cerpen lakon wayang Bale Gala-Gala mengisahkan pengkhianatan Sengkuni dan Kurawa yang membakar Pandawa hidup-hidup. Namun, pertolongan Garangan Putih mengubah jebakan maut menjadi jalan keselamatan.

Lakon Wayang Bale Gala-Gala Bagian 1: Api di Waranawata

Lakon Wayang Bale Gala-Gala Bagian 1: Api di Waranawata

Cerpen lakon wayang Bale Gala-Gala mengisahkan siasat licik Sengkuni dan Kurawa untuk menyingkirkan Pandawa melalui sebuah jebakan maut berkedok tempat bertirakat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer