
Tuan dan Nyonya sekalian, berjuta jalan mendapat hiburan di dunia ini. Ada yang harus merogoh kocek lebih dahulu. Namun, tak sedikit yang bisa diperoleh secara cuma-cuma.
Membaca sebuah cerpen menjadi salah satu jalan untuk mendapat hiburan secara gratis. Banyak cerita menarik yang diusung setiap tokoh utamanya.
Seperti kisah Sarban dalam cerpen berjudul Penjual Puyer Kenangan ini. Ada lima bagian cerita. Tiap bagian akan mengacak-acak pikiran dan imajinasi Tuan dan Nyonya sekalian.
PASAR Wage selalu datang seperti takdir. Lima hari sekali, tak pernah lebih cepat, tak pernah terlambat.
Di sudut pasar hewan yang riuh oleh lenguhan sapi dan tawar-menawar kambing, duduk seorang lelaki sepuh bernama Sarban.
Di hadapannya bukan ternak, bukan pula sayur atau rempah.
Hanya botol-botol kecil berisi bubuk halus berupa-rupa warna.
Orang-orang menyebut barang dagangan Sarban itu, puyer kenangan.
Sebuah obat yang ketika diminum akan memunculkan efek ingatan.
Meski, si peminum belum pernah mengalami kejadiannya. Banyak yang bilang, ingatan yang muncul amatlah nyata.
Hari itu, seorang lelaki berjaket lusuh mendekat. Wajahnya keras, tapi matanya kosong.
“Aku pensiunan polisi,” kata pembeli tanpa basa-basi.
“Aku ingin membeli puyer kesedihan,” ungkapnya dengan penuh keyakinan.


