Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

LAKON WAYANG | Durna Gugur (1) - Kegelisahan Sang Guru

K
Penulis: Ki Damar❯
Ilustrasi lakon wayang Durna Gugur (RADAR MADIUN)
Ilustrasi lakon wayang Durna Gugur (RADAR MADIUN)

PEPERANGAN antara Pandawa dan Kurawa semakin sengit dan penuh darah.


Advertisement

Abimanyu gugur akibat terperangkap dalam barisan Cakrabiyuha. Biang kerok tewasnya Abimanyu tak lain adalah Raden Tirtanatata alias Jayadrata.

Tak berselang lama, giliran Jayadrata yang tewas.

Kepalanya dipenggal oleh Arjuna karena telah membunuh Abimanyu.

Advertisement

Kini, Durna diliputi kebingungan. Ia kesulitan menyusun strategi untuk mengalahkan Pandawa.

Dia juga merasa gelisah karena seakan, esok ia akan mendapat karma atas perbuatan yang selama ini lakukan.

Durna lalu menemui anaknya, yaitu Raden Aswatama.

Advertisement

"Anakku Aswatama, besok ayah akan kembali menjadi senopati. Perasaan ayah kali ini berbeda. Tidak seperti hari-hari sebelumnya," ujarnya, kepada sang anak.

"Maka dari itu, jagalah dirimu baik-baik sewaktu perang, anakku. Kallau bisa, kamu janganlah jauh-jauh dengan ayah, Aswatama!" sambung Durna.

Mendengar permintaan ayahnya itu, Aswatama menjadi khawatir.

Ia berjanji akan selalu berada di dekat dengan ayahnya.

Sementara itu di Pesanggrahan Bulupitu, Prabu Duryudana menyuruh Dursasana untuk menghadap.

"Dursasana, kamu besok janganlah pergi ke medan perang, kamu bersembunyilah di taman Kadilengleng Astina," pesannya.

"Karena setelah kematian anakku Lesmana Mandrakumara, engkau menjadi sorotan Pandawa karena mau tidak mau kamu sekarang adalah putra mahkota yang harus dilindungi," imbuhnya.

Dursasana menolak.

"Bagaimana bisa saya bersembunyi dan berdiam diri sedangkan saudara-saudara saya bertempur bahkan rela nyawanya menjadi taruhan, ini tidak adil, kakak prabu."

Jawaban itu membuat Duryudana murka.

"Diam! Kamu tidak berhak menolak perintahku, ini titah raja yang harus kau turuti, ini juga demi kebaikanmu. Jangan sampai kau muncul di Kurusetra bila ingin diakui sebagai Kurawa!" (*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Advertisement
Editor : Mizan Ahsani
Sumber : Radar Madiun

Artikel Terkait

Lakon Wayang Bale Gala-Gala Bagian 3 Habis: Pandawa Bangkit dari Abu, Takdir Tak Bisa Dibakar

Lakon Wayang Bale Gala-Gala Bagian 3 Habis: Pandawa Bangkit dari Abu, Takdir Tak Bisa Dibakar

Cerpen lakon wayang Bale Gala-Gala mengisahkan keselamatan Pandawa dari jebakan maut Sengkuni dan Kurawa. Meski Bale Gala-Gala telah menjadi abu, kebenaran dan takdir tak pernah bisa dibakar.

Lakon Wayang Bale Gala-Gala Bagian 1: Api di Waranawata

Lakon Wayang Bale Gala-Gala Bagian 1: Api di Waranawata

Cerpen lakon wayang Bale Gala-Gala mengisahkan siasat licik Sengkuni dan Kurawa untuk menyingkirkan Pandawa melalui sebuah jebakan maut berkedok tempat bertirakat.

Cerpen Wayang Abimanyu Bagian 5 Habis: Pengorbanan Sang Kesatria Muda

Cerpen Wayang Abimanyu Bagian 5 Habis: Pengorbanan Sang Kesatria Muda

Abimanyu mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Puntadewa, Nakula, dan Sadewa dari Cakrabyuha. Di tengah kepungan Kurawa, kesatria berusia sebelas tahun itu memilih bertarung meski tak menemukan jalan pulang.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer