Oleh: Ki Damar (*)
BIMA merupakan anak kedua Prabu Pandu dengan Dewi Kunti. Dia sesungguhnya anak dari Bathara Bayu, sang dewa angin.
Bima merupakan sosok yang sangat tegas, pemberani, dan bertanggung jawab.
Bahkan ketika lahir, Bima masih berbentuk plasenta dan belum pecah dari bungkusnya selama 12 tahun.
Dia lantas diungsikan ke hutan Mandalasara supaya hidup dengan menyerap tenaga alam.
Suatu ketika, di kahyangan ada seekor gajah bernama Gajah Seno. Ia menginginkan surga yang tak berbeda dengan surganya manusia.
Permintaan itu akan dikabulkan bila Gajah Seno berhasil membedah bungkus yang ada di hutan Mandalasara, yaitu anak Dewi Kunti.
Benar saja, ketika bungkus itu dibedah oleh Gajah Seno, muncullah seorang anak yang gagah pekasa.
Nahas, Gajah Seno malah tewas dibunuh Bima.
Anehnya, Gajah Seno seolah merasuk ke dalam anak itu. Gadingnya menjadi pusaka yang menjadi satu dengan kukunya.
Lalu oleh dewa, anak ini diberi nama Raden Bima Seno. Artinya, satria besar yang kuat seperti gajah.
Selain itu Raden Bima mempunyai pusaka yang ditakuti musuhnya bernama Gada Rujakpolo.
Rujak berarti makanan dan polo adalah otak.
Artinya setiap musuh yang dihantam pastilah kepalanya pecah.
Selain itu, ia juga mempunyai kekuatan pengendalian angin karena dia adalah anak Bathara Bayu.
Dia adalah satria dari Jodipati. Mempunyai tiga istri yang bernama Dewi Nagagini, Dewi Arimbi, dan Dewi Urangayu.
Bima memiliki anak yang tak kalah sakti, tidak berbeda dengan ayahnya.
Yakni, Raden Antareja, Raden Gatutkaca, dan Raden Antasena. Mereka semua satria yang menjadi kekuatan besar di negara Amarta. (*/naz)
(*) Penulis merupakan alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani