Oleh: Ki Damar*
NARADA adalah pujangga atau patihnya para dewa. Ia mempunyai nama lain Resi Kaneka Putra.
Dia merupakan juru timbang atau dewa yang menjadi pertimbangan Batara Guru tentang kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Batara Guru.
Tentu saja, mereka sering berdebat tentang masalah kebijakan-kebijakan yang kadang tidak adil atau merugikan dalam sisi yang lain.
Dalam buku pedalangan, Narada adalah anak dari Batara Catur yang juga sepupu Hyang Tunggal.
Resi Kaneka Putra dulu seorang yang sangat tampan.
Suatu hari, ia bertapa di tengah sebuah samudra dengan membawa pusaka yang diberikan oleh ayahnya yang bernama Linggamanik.
Saking kuatnya Resi Kaneka Putra dalam bertapa, tak satupun dewa yang berhasil membangunkannya.
Pada akhirnya, Batara Guru sendiri yang turun tangan menghampiri Resi Kaneka Putra.
Setelah terbangun, terjadi perdebatan di antara mereka.
Batara Guru lantas mengutuk Resi Kaneka Putra menjadi jelek, gendut, dan kerdil.
Lantaran Batara Guru mengutuk tanpa sebab kepada anaknya sendiri, iapun kualat.
Tangannya bertambah menjadi empat.
Empat tangan itu menggambarkan sebagai dewa serakah. Juga menjadi simbol sedulur papat limo pancer.
Akhirnya Narada diangkat menjadi dewa dan diberi tempat di kahyangan Sidik Pangudal-udal. (naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani