SETELAH Prabu Jayasentika tunduk, Petruk mengubah penampilannya. Ia menyamar sebagai raja bernama Prabu Tong-Tongsot alias Prabu Bel Geduelbeh.
Tugas pertamanya adalah memberontak ke Amarta.
Di Amarta, Prabu Bel Geduelbeh mengamuk mencari Pandawa. Semua prajurit Amarta berhasil dikalahkan.
Bahkan Bima dan Arjuna tak sanggup menghadapi Bel Geduelbeh.
Kresna merasa curiga dengan raja itu. Ia menyuruh Gareng dan Bagong untuk menghadapi Prabu Bel Geduelbeh.
"Aduh sinuwun, bagaimana kita menghadapi raja itu, bahkan bendara kita Pandawa dan anak-anaknya tak sanggup menghadapi," kata Gareng.
Bagong mengungkapkan ketakutannya.
"Apakah kita akan dijadikan tumbal? Tega sekali anda menjadikan rakyat kecil sebagai korban," kata Bagong.
Kresna lalu membisikkan sesuatu pada mereka tentang identitas raja tersebut.
Bagong terkejut mendengar bisikan Kresna. "Oh kurang ajar kamu ya, Bel Geduelbeh, menjadi kaya tidak ajak-ajak," ujar Bagong.
Keduanya lantas maju ke hadapan raja yang mengamuk tersebut.
"Apa yang kamu lakukan, hai orang rendah?," kata Bel Geduelbeh, kepada Gareng dan Bagong.
Keduanya langsung menyerahkan diri untuk dibunuh.
"Bila memang kau tega, bunuhlah kami, susah senang kita bersama. Hanya karena kekuasaan kamu lupa dengan kami yang menemanimu, ha?," kata Bagong dan Gareng.
Petruk lantas tersadar. Ia melakukan perbuatan yang seharusnya tidak ia lakukan. Akhirnya, si raja Bel Geduelbeh itu kembali ke wujud aslinya.
Pandawa meminta penjelasan kepada Petruk. Kenapa sampai harus menyamar dan mengamuk di Amarta.
Ternyata, Petruk melakukan hal itu agar para pemimpin tidak lupa dengan rakyat kecil.
Pada dasarnya, rakyat kecil seperti Petruk adalah lambang kekuatan besar. Pemimpin punya kewajiban mengayomi masyarakat.
Mendengar alasan Petruk, para Pandawa meminta maaf dan memeluknya. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani