"BAIKLAH, aku mengerti, Kakang Mbok. Apakah Punakawan masih bersama kalian?" tanya Widura.
"Mereka selalu bersama kami dan saat ini sedang mencari makanan untuk kita," jawabnya.
"Syukurlah jika Punakawan masih bersama kalian dan tidak meninggalkan kalian," jawab Widura.
Ia berusaha meyakinkan Pandawa untuk ikut bersamanya.
"Puntadewa, apakah kamu tidak merindukan Eyang Wiyasa? Bagaimana jika kita menemui Eyang? Eyang sangat merindukan kalian."
Kunti memberi isyarat untuk menolak, tetapi Puntadewa dan yang lainnya khawatir tentang Eyang yang sangat peduli pada mereka.
"Ibu, aku tahu ibu khawatir pada kita. Seiring berjalannya waktu, kita akan bisa melewati segala cobaan," kata Puntadewa.
"Niat Paman Widura hanya untuk membantu, dan mungkin Eyang Wiyasa khawatir. Lebih baik kita menemui eyang. Ibu, semenjak ayah tiada, hanya Eyang Wiyasa yang peduli kita," lanjutnya.
Widura tersenyum.
"Benar itu, Kakang Mbok. Mohon pengertiannya, Kanjeng Rama Wiyasa sangat khawatir pada kalian," kata Widura.
"Baiklah, Widura. Aku akan menuruti permintaanmu, tetapi aku mohon agar jangan ada yang tahu bahwa kita sedang berada di Saptaharga. Aku tidak mau anak-anakku dalam bahaya," kata Kunti.
Akhirnya, mereka pergi menemui Begawan Wiyasa, eyang para Pandawa. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani