Lakon Wayang Amarta Kelem oleh Ki Damar
TIBA-TIBA Semar terbangun di tengah malam setelah mengalami mimpi yang terasa ganjil.
Ia melangkah keluar rumah, menatap langit yang terang benderang, lalu bergumam pelan, “Apakah alam sedang ingin menegur manusia?”
Suara pintu membuat Petruk terbangun. Dengan mata masih mengantuk, ia keluar dan mendapati Semar berdiri termenung.
“Ada apa, Pak? Kok keluar? Ini masih larut malam,” tanya Petruk sambil menguap lebar.
Semar menghela napas panjang.
“Aku merasakan firasat buruk, Truk. Seperti akan ada bencana melanda negeri kita. Kalian harus bersiap. Besok aku harus sowan menghadap para Pandawa untuk menyampaikan pertanda ini.”
Petruk menatap ayahnya dengan cemas.
“Iya, Pak. Di luar dingin. Masuk dulu, jaga kesehatanmu.”
Semar akhirnya kembali ke dalam, namun sesekali ia menoleh ke langit yang tak biasanya—terang, hening, dan seolah memancarkan isyarat.
Bencana Mengguncang Amarta
Keesokan harinya, kedamaian istana Amarta pecah oleh kabar buruk.
Prabu Puntadewa dikejutkan dari tidurnya oleh kedatangan Patih Tambak Ganggeng.
Dengan napas terengah, sang patih melapor,
“Sinuwun, telah terjadi banjir dan tanah longsor di Kesatrian Madukara dan Jodipati. Banyak korban berjatuhan. Raden Werkudara dan Raden Arjuna pun kewalahan menghadapi keadaan ini.”
Puntadewa terperanjat.
“Jagad Dewa Batara… Tambak Ganggeng, segera kumpulkan semua punggawa dan prajurit! Sampaikan bahwa negeri sedang dalam bahaya besar.”
Ia kemudian memberi perintah lebih lanjut:
“Kirim utusan ke Dwarawati. Undang kakanda Prabu Kresna ke Amarta. Kita membutuhkan kebijaksanaannya.”
Tanpa menunda waktu, Patih Handakawana bergegas menjadi duta untuk memanggil Prabu Kresna. (*/den)
*Penulis lakon wayang Amarta Kelem alumnis ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan