Hadis Rasulullah SAW tentang Nikmat yang Lebih Berharga daripada Kekayaan

Jawa Pos Radar Madiun - Memiliki harta berlimpah belum tentu membuat seseorang menikmati kehidupan dengan baik. Sebaliknya, tubuh yang sehat dan jiwa yang tenteram merupakan karunia besar yang sering kali baru disadari ketika seseorang jatuh sakit.
Dalam ajaran Islam, kesehatan mempunyai kedudukan istimewa. Rasulullah SAW bahkan mengingatkan bahwa kesehatan bagi orang yang bertakwa lebih baik daripada kekayaan.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa harta bukan satu-satunya ukuran kesejahteraan manusia. Kemampuan menjalani kehidupan dengan tubuh sehat dan hati yang tenang juga merupakan nikmat yang patut disyukuri.
Ajaran ini tercantum dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah. Rasulullah SAW menyampaikan pesan tersebut ketika para sahabat sedang membicarakan kekayaan.
Hadis Rasulullah: Kesehatan Lebih Baik daripada Kekayaan
Dalam hadis yang diriwayatkan dari Mu'adz bin Abdullah bin Khubaib, diceritakan bahwa Rasulullah SAW mendatangi suatu majelis dalam keadaan terlihat gembira.
Para sahabat kemudian memperhatikan keadaan beliau dan menyampaikan bahwa Rasulullah tampak sedang berbahagia. Beliau membenarkan pengamatan tersebut sambil mengucapkan pujian kepada Allah SWT.
Setelah itu, pembicaraan para sahabat beralih pada persoalan kekayaan. Rasulullah SAW kemudian menyampaikan sebuah pesan penting.
عَنْ مُعَاذِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خُبَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَمِّهِ قَالَ كُنَّا فِي مَجْلِسٍ فَجَاءَ النَّبِيُّ ﷺ وَعَلَى رَأْسِهِ أَثَرُ مَاءٍ فَقَالَ لَهُ بَعْضُنَا نَرَاكَ الْيَوْمَ طَيِّبَ النَّفْسِ فَقَالَ أَجَلْ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ثُمَّ أَفَاضَ الْقَوْمُ فِي ذِكْرِ الْغِنَى فَقَالَ لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النَّعِيمِ
‘an mu‘adz bin abdillah bin khubaib ‘an abihi qôla, kunnâ fî majlisin fajâ’an-nabiyyu shollallôhu ‘alaihi wa sallama wa ‘alâ ro’sihi atsru mâ’in, faqôla lahu ba‘dhuna narâkal-yauma thoyyiban-nafsi, faqôla ajal wal-hamdulillâh, tsumma afâdhal-qoumu fî dzikril-ghinâ, faqôla lâ ba’sa bil-ghinâ limanit-taqô wash-shihhatu limanit-taqô khoirun minal-ghinâ wa thoyyibun-nafsi minan-na‘îm.



