Jawa Pos Radar Madiun – Siapa yang mengira harga bonsai bisa menembus angka miliaran rupiah.
Tidak hanya karena usia, tetapi juga karena bentuk unik, teknik pemangkasan rumit, dan reputasi seniman yang membentuknya.
Berikut lima bonsai termahal di dunia yang mencerminkan keindahan seni hidup dan dedikasi luar biasa.
1. Bonsai Juniper Taikan-ten – Rp2,5 Miliar
Berasal dari Jepang, Juniper Taikan-ten dikenal karena bentuknya yang dramatis dan batang yang eksotis.
Estetika alami dan kesan "liar tapi tertata" menjadikannya sangat istimewa. Harga pasarnya diperkirakan mencapai Rp2,5 miliar, menjadikannya favorit di kalangan kolektor.
2. Bonsai Sargent Juniper oleh Masahiko Kimura – Rp4,9 Miliar
Dibentuk oleh Masahiko Kimura, maestro bonsai asal Jepang, bonsai ini berusia sekitar 250 tahun.
Meski lebih muda, nilai seninya luar biasa tinggi karena teknik pembentukannya yang inovatif. Bonsai ini pernah ditawar hingga US$350.000 atau sekitar Rp4,9 miliar.
3. Bonsai Pinus Berusia 1.000 Tahun – Rp18,5 Miliar
Bonsai legendaris ini menjadi salah satu bonsai termahal sepanjang sejarah. Usianya yang mencapai 1.000 tahun membuatnya sangat langka dan bernilai tinggi.
Dengan harga sekitar Rp18,5 miliar, bonsai ini menjadi incaran kolektor elite. Jenis pinus juga dikenal sulit dirawat dan sangat bergantung pada iklim, menjadikannya tantangan besar bagi pecinta bonsai.
4. Bonsai Shunkaen Milik Kunio Kobayashi – Usia 800 Tahun
Bonsai ini berada di Shunkaen Bonsai Museum, Tokyo, dan dirawat oleh seniman ternama Kunio Kobayashi.
Usianya sekitar 800 tahun, menjadikannya tidak hanya tanaman mahal, tapi juga warisan budaya.
Meski tidak dijual, nilainya diperkirakan menyentuh miliaran rupiah karena nilai historis dan estetisnya.
5. Bonsai Silvestris Pinus – Harga Disesuaikan Usia dan Keunikan
Silvestris Pinus dikenal karena bentuk alaminya yang menyerupai pohon tua di alam liar.
Bentuk batang meliuk dan daun lebat membuat bonsai ini tampak seperti miniatur hutan alami. Harganya bisa miliaran rupiah, tergantung pada usia, bentuk, dan gaya pembentukan. (dew/cor)
Editor : Andi Chorniawan