KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Harga sejumlah bahan pokok di Kota Madiun melejit. Selain beras, harga cabai dan gula terus merangkak naik dalam tiga bulan terakhir.
Berdasarkan catatan dinas perdagangan setempat, harga cabai rawit saat ini tembus Rp 75 ribu per kilogram (kg), gula Rp 16 ribu per kg, dan beras Rp 13.500 per kg.
‘’Setiap akhir tahun beras dan cabai rawit selalu naik. Kemudian, menyusul telur. Ini saya lihat mulai 2001 sampai saat ini seperti itu,’’ Tri Prasetyaningrum, Analis Perdagangan Ahli Muda di Dinas Perdagangan Kota Madiun kemarin (13/11).
Dia mengungkapkan, melonjak harga sejumlah bahan pokok tersebut dipicu karena faktor cuaca.
Karena itu, pihaknya mendorong perlunya masyarakat menjalankan program pekarangan pangan lestari (P2L) di rumah masing-masing. Dengan harapan, ketika harga bahan pokok naik masyarakat tidak kebingungan.
‘’Yang paling berdampak dari kenaikan harga bahan pokok saat ini adalah pelaku UMKM, rumah makan, katering dan pedagang kaki lima (PKL),’’ ungkapnya.
Berdasarkan pengamatannya di lapangan, Tri mengatakan, para pelaku usaha tersebut membeli cabai kering impor dari Vietnam.
‘’Jadi, ketika harga lombok naik antisipasinnya yang membeli cabai kering,’’ katanya.
Di samping itu, harga beras hingga saat ini belum terkendali. Sebab, harga di pasaran rata-rata mencapai Rp 13.500 per kg. Sementara, harga eceran tertingginya (HET) Rp 10.400.
Sementara ini, antisipasi dilakukan pemerintah dengan menggulirkan program beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) yang dibanderol Rp 47.500 per 5 kg.
‘’Banyak beras medium lokal di atas HET. Makannya, pemerintah memasifkan beras SPHP ke pasar tradisional,’’ beber Tri.
Selain itu, Tri menyebut harga beras tidak akan turun dalam waktu dekat. Sebab, produksi beras di tingkat petani menurun.
Begitu juga dengan produksi gula terus anjlok. ‘’Di sisi lain, biaya produksinya juga naik,’’ ujarnya.
Adapun yang dapat dilakukan pihaknya saat ini hanya sebatas monitoring di Pasar Besar Madiun, Sleko dan Sri Jaya.
Selain itu, pihaknya juga menggulirkan program subsidi biaya transportasi dengan distributor untuk penyediaan produksi. ‘’Operasi pasar dilakukan pada akhir bulan,’’ tandasnya. (mg1/her)
Editor : Mizan Ahsani