Jawa Pos Radar Madiun – Pemkot Madiun terus memperkuat ketahanan pangan daerah dengan menggerakkan program urban farming atau pertanian perkotaan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).
Langkah ini diambil lantaran luas lahan pertanian di Kota Madiun terbatas, hanya sekitar 884 hektare.
Wali Kota Maidi menginstruksikan agar seluruh lahan kosong dimanfaatkan secara produktif.
Menindaklanjuti hal itu, DKPP mewajibkan setiap ASN menanam minimal dua jenis tanaman sayur.
’’Kami sudah punya stok bahan pangan di wilayah pemerintah kota. Pegawai di dinas hingga kecamatan punya lahan tanam masing-masing,’’ ujar Kepala DKPP Kota Madiun Totok Sugiarto, Senin (3/11).
Totok menjelaskan, optimalisasi lahan dilakukan dengan menanam sayuran, buah, dan komoditas pemicu inflasi seperti cabai dan bawang.
Tujuannya menekan inflasi daerah serta memperkuat kemandirian pangan.
’’Hasilnya bisa dikonsumsi langsung, sebagian digunakan untuk pakan lele dan ayam,’’ jelasnya.
Sistem pertanian ini menciptakan siklus terpadu, di mana limbah ternak dimanfaatkan sebagai pupuk organik sehingga tidak ada yang terbuang.
Selain itu, masyarakat juga diarahkan mengembangkan integrated farming lewat program P2B yang merupakan lanjutan dari P2L (Pekarangan Pangan Lestari).
’’Kami hidupkan lagi P2L agar beroperasi optimal. Bisa menanam sayur dan buah, nanti DKPP bantu benihnya,’’ kata Totok.
Pihaknya berharap rantai ketahanan pangan di Kota Madiun dapat berputar secara mandiri.
Dengan begitu, warga bisa mengelola hasil tanam hingga menambah pendapatan keluarga.
’’Kami siap melatih dan memfasilitasi masyarakat melalui bantuan pupuk dan benih,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto