Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Deteksi Dini Gangguan Mental, Ini Tanda Awal yang Sering Diabaikan

Erlita H • Rabu, 4 Februari 2026 | 00:30 WIB
Ilustrasi kesehatan mental. Perubahan perilaku dan emosi dapat menjadi tanda awal gangguan mental yang perlu segera dikenali. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN
Ilustrasi kesehatan mental. Perubahan perilaku dan emosi dapat menjadi tanda awal gangguan mental yang perlu segera dikenali. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Gangguan kesehatan mental memiliki spektrum yang luas dan tidak selalu identik dengan istilah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Pemahaman yang tepat menjadi penting agar masyarakat tidak keliru memberi stigma terhadap penderita gangguan mental.

Kepala Staf Medis Fungsional (SMF) Psikiatri RSUD dr. Soedono Madiun, dr. Susiati, SpKJ, menjelaskan bahwa secara umum gangguan mental terbagi dalam beberapa kelompok.

ODGJ biasanya merujuk pada gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia, gangguan depresi berat dengan gejala psikotik, serta gangguan afektif bipolar yang disertai gejala psikotik.

“Sementara itu, ada juga orang dengan gangguan mental kepribadian (ODMK), seperti gangguan kepribadian narsistik, ambang (borderline), dan antisosial,” jelasnya, Selasa (3/2).

Secara klinis, gangguan mental juga dibedakan menjadi gangguan psikotik dan neurotik.

Gangguan psikotik ditandai dengan hilangnya kemampuan menilai realitas, seperti pada skizofrenia.

Adapun gangguan neurotik meliputi gangguan kecemasan dan depresi, di mana penderitanya masih memiliki kesadaran terhadap kondisi yang dialami.

“Penggolongannya bisa dilihat dari gangguan psikotik dan neurotik. Psikotik seperti skizofrenia, sedangkan neurotik misalnya gangguan cemas dan depresi,” paparnya.

Selain itu, gangguan jiwa juga diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya, yakni gangguan fungsional dan organik.

Gangguan fungsional meliputi skizofrenia dan bipolar.

Sementara gangguan organik disebabkan kelainan fisik pada otak, seperti stroke, cedera kepala, infeksi, hingga tumor yang memunculkan gejala kejiwaan.

Susiati menegaskan bahwa penyebab gangguan mental bersifat kompleks dan saling berkaitan.

Faktor genetik, ketidakseimbangan zat kimia di otak, pengalaman hidup, lingkungan, hingga pola asuh berperan besar dalam memicu gangguan tersebut.

“Pengalaman masa kecil seperti kehilangan orang tua atau mengalami kekerasan seksual bisa berdampak jangka panjang terhadap kesehatan mental,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa gangguan mental berpotensi mengancam keselamatan jiwa.

Depresi berat dapat memicu keinginan bunuh diri, sedangkan gangguan psikotik bisa menimbulkan halusinasi perintah yang membahayakan diri sendiri.

Penanganan gangguan mental, lanjutnya, harus dilakukan secara komprehensif.

Pada kondisi sedang hingga berat, terapi farmakologis menggunakan obat diperlukan dan wajib berada di bawah pengawasan dokter spesialis.

Sementara pada kondisi ringan, pendekatan nonfarmakologis seperti konseling, relaksasi, dan dukungan psikososial dinilai efektif.

“Terapi obat harus dalam pengawasan dokter spesialis. Namun, pada kondisi ringan, pendekatan tanpa obat juga sangat membantu,” tegasnya.

Susiati mengimbau masyarakat lebih peka terhadap perubahan perilaku.

Tanda awal gangguan mental dapat berupa menarik diri dari lingkungan, penurunan fungsi sosial, hingga perubahan emosi yang drastis.

Deteksi dini dinilai sangat penting agar gangguan mental tidak berkembang menjadi kondisi kronis.

“Jika ada tanda-tanda tersebut, segera minta pertolongan ke layanan kesehatan terdekat,” imbaunya.

Menjaga kesehatan mental, menurutnya, dapat dilakukan dengan pola hidup teratur, istirahat cukup, asupan gizi seimbang, serta menjaga hubungan sosial yang sehat.

Penggunaan gawai juga perlu dibatasi karena berpotensi memicu gangguan emosi bila dilakukan secara berlebihan.

“Apabila muncul keluhan cemas, sedih berkepanjangan, atau gangguan tidur, jangan ragu mencari bantuan tenaga profesional agar kualitas hidup tetap terjaga,” pungkasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
#deteksi dini gangguan jiwa #psikiater Madiun #depresi dan kecemasan #gangguan mental #kesehatan mental #madiun #RSUD dr Soedono Madiun #ODGJ dan ODMK