Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Waspada Gunung Tangkuban Parahu! Gempa Naik 134 Kali, Potensi Erupsi Freatik Bisa Terjadi Mendadak

Ockta Prana Lagawira • Rabu, 4 Juni 2025 | 19:06 WIB
Aktivitas Gunung Tangkuban Parahu meningkat.
Aktivitas Gunung Tangkuban Parahu meningkat.

Jawa Pos Radar Madiun – Gunung Tangkuban Parahu kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang perlu diwaspadai.

Meski masih berstatus Level I (Normal), badan geologi menyebut adanya lonjakan gempa dan deformasi yang mengarah pada potensi erupsi freatik dalam waktu dekat.

Data yang dikumpulkan dari 30 Mei hingga 2 Juni 2025 mencatat gempa hembusan sebanyak 21–37 kejadian dan gempa frekuensi rendah melonjak hingga 134 kali.

Hal itu diungkap Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Muhamad Wafid dalam keterangan resmi di Bandung, Selasa (3/6).

Inflasi Tekanan Tubuh Gunung, Bahaya Uap Superpanas Mengintai

Pemantauan deformasi melalui metode Electronic Distance Measurement (EDM) dan Global Navigation Satellite System (GNSS) menunjukkan pola inflasi, yakni peningkatan tekanan dalam tubuh Gunung Tangkuban Parahu.

“Dengan curah hujan tinggi dan sifat gunung ini yang kerap disertai gempa frekuensi rendah, ada kemungkinan panas dari magma akan merambat lewat batuan dan memanaskan sistem air tanah,” jelas Wafid.

Jika air dalam tubuh gunung mengalami pemanasan ekstrem atau super heating, potensi terjadinya erupsi freatik meningkat. Ini adalah jenis letusan yang terjadi tanpa tanda-tanda jelas dari aktivitas magma dalam.

Status Masih Normal, Tapi Risiko Tetap Ada

Meskipun belum terdeteksi pergerakan magma dari kedalaman, peningkatan gempa frekuensi rendah menjadi indikator bahwa fluida panas telah mendekati permukaan.

Gas hembusan dari Kawah Ratu pun tercatat semakin intens, dengan ketinggian mencapai 120 meter.

Namun, hingga kini status aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih berada di Level I (Normal). Asap putih dengan intensitas tipis hingga tebal masih menjadi ciri utama yang terpantau dari kawah.

“Meski normal, masyarakat harus memahami bahwa erupsi freatik bisa terjadi mendadak tanpa peningkatan aktivitas signifikan,” tegas Wafid.

Imbauan: Jangan Dekati Kawah, Jangan Menginap

Badan Geologi mengimbau masyarakat dan pengunjung agar tidak mendekati dasar kawah, tidak menginap di area kawah aktif, serta segera menjauh bila asap tampak semakin tebal atau jika mencium bau gas menyengat.

Potensi bahaya dari erupsi freatik meliputi lontaran material vulkanik, hujan abu, hingga gas beracun.
“Masyarakat sekitar Tangkuban Parahu diharapkan tetap tenang, jangan terprovokasi isu erupsi, dan terus pantau informasi resmi,” ujar Wafid.

Evaluasi Berkala dan Riwayat Letusan Terkini

Gunung Tangkuban Parahu terakhir mengalami erupsi freatik pada 26 Juli 2019. Letusan dari Kawah Ratu kala itu terjadi pukul 15.48 WIB dan disusul peningkatan status ke Level II (Waspada) pada 2 Agustus 2019.

Status tersebut bertahan hampir tiga bulan sebelum akhirnya kembali menjadi Normal pada 21 Oktober 2019.

Gunung ini memiliki sembilan kawah, dengan dua yang paling aktif adalah Kawah Ratu dan Kawah Upas—keduanya berada di area puncak dan menjadi lokasi utama letusan terdahulu.

Koordinasi Terus Ditingkatkan

Badan Geologi meminta Pemda, BPBD provinsi dan kabupaten untuk terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Tangkuban Parahu di Desa Cikole, Kecamatan Lembang, serta dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung.

Langkah mitigasi dan antisipasi dini menjadi penting mengingat kondisi gunung yang sangat dinamis dan sering dikunjungi wisatawan. (ota)

Editor : Ockta Prana Lagawira
#potensi erupsi freatik #badan geologi #kawah ratu taman wisata alam gunung tangkuban parahu #gempa #aktivitas gunung tangkuban parahu meningkat