Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah hiruk-pikuk kebijakan sosial nasional, pernyataan mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, kembali memantik diskusi mendalam mengenai arah pembangunan manusia di Indonesia.
Ganjar secara konsisten menyuarakan bahwa masa depan bangsa tidak bisa hanya dibangun dari kebijakan konsumtif, melainkan harus melalui fondasi pendidikan yang kuat.
Pertanyaan mendasar yang muncul adalah mana yang lebih mendesak bagi rakyat, sekolah gratis atau makan gratis?
1. Pendidikan sebagai Mesin Pengubah Nasib (Social Multiplier)
Dalam dialog publik di Kulon Progo, Yogyakarta, Ganjar melemparkan opsi tersebut kepada warga dan menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditawar.
Ada beberapa poin krusial mengapa Ganjar menempatkan pendidikan di atas program bantuan pangan:
-
Minimal 12 Tahun Gratis: Negara wajib memastikan tidak ada anak putus sekolah karena biaya agar generasi mendatang memiliki daya saing.
-
Memutus Rantai Kemiskinan: Melalui gagasan "Satu Keluarga Miskin Satu Sarjana", Ganjar percaya pendidikan tinggi adalah jalan keluar paling nyata dari kemiskinan antargenerasi.
2. Kisah Personal: Melawan Rentenir Demi Kuliah
Pandangan Ganjar bukan sekadar teori politik, melainkan refleksi dari masa lalunya yang sulit.
Ia tumbuh dalam ekonomi sederhana di mana keluarganya bahkan harus berutang ke rentenir agar dirinya bisa melanjutkan kuliah.
Pengalaman pahit inilah yang membentuk keyakinannya bahwa pendidikan adalah eskalator ekonomi bagi rakyat kecil.
3. Kritik Terhadap Program Makan Gratis & Penanganan Stunting
Ganjar tidak menampik pentingnya gizi, namun ia memberikan perspektif berbeda mengenai efektivitas program makan gratis dalam menyelesaikan masalah kesehatan seperti stunting:
“Penanganan stunting harus dimulai jauh lebih awal, yakni sejak masa kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan anak, bukan hanya dengan makan gratis di sekolah,” ujar Ganjar.
Menurutnya, negara harus memastikan anak-anak Indonesia tidak hanya kenyang hari ini, tetapi juga cerdas dan berdaya saing di masa depan.
4. Data Ekonomi: Dampak Pendidikan vs Konsumsi
Berbagai data global mendukung narasi bahwa investasi pada otak (pendidikan) memberikan imbal hasil lebih besar bagi negara dibandingkan bantuan langsung yang bersifat habis pakai:
| Aspek | Manfaat Pendidikan (Social Multiplier) |
| Pendapatan Individu | Setiap tambahan satu tahun pendidikan meningkatkan pendapatan secara signifikan. |
| Produktivitas Nasional | Negara dengan tingkat pendidikan tinggi memiliki ekonomi yang lebih kuat dan stabil. |
| Ketahanan Sosial | Pendidikan menjadi fondasi agar masyarakat mampu mandiri tanpa terus bergantung pada bantuan pemerintah. |
Kesimpulan: Bangsa Besar Adalah Bangsa yang Terdidik
Debat antara "Makan Gratis" dan "Sekolah Gratis" menunjukkan kerinduan masyarakat akan kebijakan yang berdampak panjang.
Pesan inti dari Ganjar Pranowo adalah pengingat bagi pengambil kebijakan: Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya, melainkan bangsa yang berhasil mendidik rakyatnya menjadi generasi unggul. (naz)
Editor : Mizan Ahsani