Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Antara Tugu dan Monumen Suryo di Desa Pelanglor, Kedunggalar

Administrator • Selasa, 30 April 2019 | 21:41 WIB
Photo
Photo

NGAWI - Nasib Tugu Suryo di Desa Pelanglor, Kedunggalar, berbanding terbalik dengan kawasan monumen tidak jauh dari lokasi tersebut. Jika monumen berdiri megah dan cukup terawat, tonggak beton setinggi sekitar 2,5 meter itu terkesan tak terurus.


Berupa-rupa pepohonan di kawasan Monumen Suryo menyuguhkan kerindangan. Ada teduh di sela bising arus lalu lintas jalan raya depan monumen itu. Tak peduli siang terik, sejumlah wisatawan asyik berfoto ria di bawah patung Gubernur Suryo. Beberpa yang lain serius mengamati relief di empat sisi kubus balok tempat patung berdiri.


‘’Itu kok ada orang bawa tembak dan ada orang tergeletak itu kenapa, Bu?’’ tanya seorang bocah kepada orang tua yang mendampinginya. ‘’Kisah tentang penjajahan Belanda itu,’’ si orang tua menimpali.


Perempuan itu dipastikan memberikan jawaban sekenanya kepada si anak. Pasalnya, relief di Monumen Suryo bukan bercerita tentang zaman penjajahan Belanda. Melainkan berkisah mengenai pembunuhan Gubernur Suryo bersama dua perwira polisi oleh PKI pada 1948.


Jasadnya ditemukan di kawasan hutan jati masuk Kecamatan Kedunggalar, Ngawi. Untuk mengenang peristiwa tersebut, berdirilah Monumen Suryo yang diresmikan pada 28 Oktober 1975 oleh Pangdam VIII/Brawijaya Mayjen TNI-AD Witarmin.


Patung gubernur Jatim pertama itu tegak berdiri bersama dua perwira polisi di belakangnya. Bergelar Raden Mas Tumenggung Aryo (RMTA), sosok Gubernur Suryo digambarkan mengenakan blangkon dan memegang teken di tangan kiri. Lengan kanan terangkat dan telunjuknya menuding ke arah utara. ‘’Dari berbagai referensi, jari telunjuk itu menunjukkan tempat di mana jenazah Gubernur Suryo ditemukan,’’ kata Kabid Pariwisata Disparpora Ngawi Totok Sugiharto.


Searah dengan telunjuk patung Gubernur Suryo terdapat sebuah tugu penanda lokasi penemuan jasad sang gubernur. Yakni, sekitar 200 meter di seberang jalan depan monumen. ‘’Lokasi tugu berada di lahan milik Perhutani. Nah, itu yang menjadi persoalan,’’ ujar Totok.


Beranjak dari monumen, jalan makadam tak seberapa lebar mesti dilalui lebih dulu sebelum  sebuah tugu setinggi kurang lebih 2,5 meter menampakkan diri. Suasananya sepi. Kelewat jarang kendaraan yang melintas. Kondisi tersebut semakin mengukuhkan nuansa mencekam lokasi ditemukannya jasad Gubernur Suryo akibat kekejian PKI 71 tahun silam.


Di badan tugu terdapat sebidang bagian dengan tulisan yang tidak lagi utuh. Pun, tidak kentara. Pada tulisan yang tertinggal terdapat tiga nama yakni RMTA Soeryo, Kombers M. Doeryat, dan Kompol TK.I. Soeroko.


Kondisi kawasan monumen berbanding terbalik dengan keberadaan tugu. Baik secara fisik maupun keramaian. Monumen yang terawat rapi menjadi jujugan wisatawan dari berbagai kalangan. Sedangkan tugu, tulisan saja sudah tidak komplet adanya. Tinggal tiga pagar berupa batangan besi dengan bawah beton cor. ‘’Dulu ada rantai besi yang mengelilingi tugu. Sekitar empat tahun lalu,’’ kata Arif Setiono, warga setempat.


Tugu sarat goresan tinta sejarah itu kini terabaikan. Kondisinya merana seperti nasib sosok yang ditandai. Dengan tempelan perca keramik yang mengelilingi badan tugu, patok beton penanda lokasi ditemukannya Gubernur Suryo yang meregang nyawa itu kini berdiri di tepi jalan makadam. Hanya sejumlah tanaman jagung yang menemani tugu dengan landasan beton cor berundak tiga itu selain suara kendaraan yang sesekali melintas. ***(isd)

Editor : Administrator
#jawa pos #radar madiun #berita ngawi