Paulina menyebutkan, kasus DBD sejauh ini banyak dilaporkan dari wilayah Puskesmas Ngawi dan Ngawi Purba. Wilayah perkotaan rentan menjadi lokasi persebaran karena kepadatan penduduknya.
Selain itu banyak barang yang bisa dijadikan sarang nyamuk Aedes aegypti bertelur. Persoalan itu ditambah dengan pola hidup yang tidak sehat. ‘’Penanganan terbaik bukan fogging, tapi dengan gerakan 3M plus,’’ ujarnya.
Dia berharap masyarakat aktif memeriksakan anggota keluarga yang sakit dengan gejala DBD. Bila tidak segera ditangani, bisa berakibat fatal. ‘’Hingga kini belum ada pasien meninggal,’’ ucapnya sembari menyebut mengacu tahun lalu, kasus kematian pasien DBD terjadi Mei hingga Agustus. (sae/cor) Editor : Hengky Ristanto