SOSOK Dewa Ruci atau Ruci Batara menyerupai Bima.
Dalam filsafat Jawa, karakter Dewa Ruci berkaitan dengan ilmu marifat yang diperjuangkan oleh Bima.
Ketika Bima disuruh mencari air kehidupan, ia menemui sejumlah rintangan. Dari bertemu raksasa di hutan Candramuka, hingga naga yang di lautan.
Berbagai rintangan itu menjadi bukti bahwa Bima merupakan sosok yang bisa mengalahkan ego atau juga nafsu yang ada di dalam dirinya.
Tuntas melewati berbagai rintangan, Bima tenggelam dalam laut.
Artinya, ia ketika sudah mengalahkan nafsu maka ia hanyut dalam ketenangan jiwa dan bertemu Dewa Ruci, sebagai simbol manunggaling kawula gusti.
Ketika manusia menyingkirkan nafsu dan berhasil menenangkan jiwanya, maka ia akan merasa damai dan menyatu dengan tuhannya.
Penggambaran Dewa Ruci ini merupakan alegori hasrat manusia yang terus ingin melacak keberadaan tuhannya dengan melakukan penjelajahan spiritual.
Menurut filsafat Jawa, manusia adalah jagad cilik atau mikrokosmos (dunia kecil).
Dan alam semesta adalah jagad gede atau makrokosmos.
Tapi pada dasarnya, jagat manusia lebih besar dari jagat semesta. Karena barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal tuhannya. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani