SEMENTARA itu di Mandura, pembangunan pasar yang dikerjakan Anoman sudah hampir jadi.
Prabawa sebagai patih selalu mendampingi Anoman di lokasi proyek. Tiba-tiba saja, Prabawa merasa tidak enak badan.
Ia seketika tergeletak dan mengeram layaknya raksasa. Dengan mata yang merah, dia langsung menyerang Anoman.
Ketakutan, Anoman lari menuju istana.
Kresna, Arjuna, Werkudara dan Punakawan yang baru tiba langsung menghadap Prabu Baladewa.
Arjuna meyampaikan pesan eyangnya.
Prabu Baladewa hanya bisa mengiyakan karena ia tak tahu maksud Resi Wiyasa.
"Kakak prabu setidaknya harus bersabar karena di depan mungkin terjadi sesuatu yang membuat emosi," kata Kresna.
"Mari nanti kita lihat bila nanti ada keramaian, semoga itu pertanda cahaya segera muncul di Mandura," imbuhnya.
Baru sekejap berbicara, datanglah Anoman dengan tergupuh. Ia menyampaikan bahwa Prabawa tiba-tiba menyerangnya.
Anoman curiga karena mata sang patih memerah dan giginya terus menggertak.
Baladewa yang mendengar itu bergegas pergi seakan lupa pesan dari Wiyasa dan Kresna.
Sebagai antisipasi, Kresna menyuruh Kyai Semar untuk siap sedia mengawasi awan-awan di Mandura. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani