PEPERANGAN yang terjadi berangsur sengit dan penuh darah.
Akhirnya, Arjuna bertemu dengan Basukarna.
Mereka bertarung dengan sengit. Menggunakan krida keris, panah maupun tangan kosong.
Prajurit di sekeliling mereka hanya bisa melongo melihat kekuatan mereka.
Basukarna kagum dengan perkembangan kekuatan sang adik.
"Wahai adikku, sungguh aku kagum dengan kekuatanmu. Rasanya tidaklah seru bila hanya bertarung di sini. Bagaimana kalau kita berperang di atas kereta dan saling adu kepiawaian memanah?," ajak Basukarna.
Arjuna menyetujui dan naik kereta yang dikusiri Prabu Kresna.
Mereka saling beradu jitu dalam memanah. Basukarna yang terus mencoba menghujani adiknya dengan panah diberi saran oleh Salya.
"Panahmu kurang turun sedikit, itu tidak akan mengenainya," kata Salya.
"Tidak, ini sudah tepat, rama prabu," jawab Basukarna.
Benar saja, panah Basukarna hanya mengenai ujung rambut Arjuna.
Bukan karena Basukarna tak tepat sasaran, tapi karena Kresna menggenjot keretanya hingga turun sejengkal.
Salya marah pada Basukarna yang tidak mau menuruti ayah mertuanya. Ia lalu pergi.
Ia merasa berat menjadi senopati sekaligus kusir.
Basukarna yang lengah karena sedang berdebat dengan ayah mertuanya tiba-tiba tertusuk panah.
Anak panah Arjuna menghujam leher sang kakak.
Ia langsung terjatuh dari kereta.
Arjuna yang berusaha mendekati kakaknya dilarang oleh Kresna. Tidak ada yang mendekati pria sekarat itu.
Namun tiba-tiba, Kunti datang dengan air mata yang berderai bersama angin. Ia langsung memeluk erat anaknya.
Basukarna menatap mata sang ibu yang penuh rasa sesal dan sedih.
"Ibu, maafkan aku. Selama ini aku tidak bisa berbakti padamu. Aku hanya bisa bilang bahwa aku rindu dipangku oleh seorang ibu," ujarnya.
Dengan sisa-sisa nafasnya, Basukarna kembali mengutarakan isi hatinya kepada Kunti.
"Sekian lama, sedewasa ini, aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu kandungku. Malah aku datang dengan darah dan permintaan maaf," tuturnya.
"Percayalah ibu, aku melakukan ini demi adikku, bukan karena aku membenci mereka. Sampaikan maafku pada mereka, ibu," kata Basukarna.
Kunti memeluk Basukarna dengan erat.
Sang anak akhirnya gugur di medan perang dengan tenang.
Namun, bukan karena panah Arjuna, melainkan karena hangatnya cinta dari ibu yang dia rindukan selama ini. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani